Jumat, 18 Juni 2010

Paus Cinta

Sedulurku tercinta, Setiap Paus di Vatikan, karena menyerap cinta dari Sang Penggembala, Yesus Kristus itu, maka Paus musti membawa missi agama cinta,tidak sekedar cinta agama, seperti yang dipraktekkan Ibu Theresia itu, beliau pernah menyatakan: kalau aku melayani ini berdasar atas nafsu akan temporal dan cepat lelah, tetapi pelayanan ini berdasat atas energi ilahiyah, aku tak pernah merasa jijik dan capek melayani orang-orang yang telah dibuang ini.

Yang akan aku ceritakan ini bukan Paus yang di Vatikan itu, tetapi seekor ikan paus di samodra yang dirubung oleh gerombolan ikan teri, yang di dadanya ikan teri ini meluap rasa rindu akan tahu luasnya samudra ini. Bagai seorang begawan dirubung oleh para murid-muridnya. Bagai Kiai dirubung oleh santri-santrinya. Bagai Paus dirubung oleh gembalaannya.

Jutaan ikan teri dengan luapan yang sama bertanya kepada Ikan paus: terangkan kepada kami wahai ikan paus akan luasnya samodra? Maka ikan paus itu bicara dengan berdasar atas pengalamannya dan didengarkan jutaan teri yang didera luapan ingin tahunya: Wahai kawan-kawan penghuni samudra raya, dalam perjalanan sunyiku menjelajahi samudra ini, aku temukan banyak pesona yang tak bertepi, setelah kejenuhanku menemukan kesamaan melulu ditengah panorama yang beragam ini, maka aku merasa berasyik ria denganmu dan dengan semua kawan-kawan kita sesamudra, untuk menanti ajalku, aku pernah menawarkan diri merapat di pantai, namun ada yang menolakku, aku ditarik lagi ke tengah, mereka itu orang-orang yang merasa bahwa aku kamu adalah bagian dari kesatuan penghuni alam raya yang tak bertepi ini, dalam lompatanku sesaat aku melihat ternyata di luar alam samudra kita ini: ada langit dengan gemintangnya, ada gunung yang megah, ada manusia yang lucu-lucu, ada hewan-hewan yang menggemaskan, ada bidadari-bidadari berjemur di pantai, sebenarnya aku ingin mati disantap manusia-manusia lucu itu untuk menuntaskan kejenuhanku mengembara di samudra ini, hanya begini-begini melulu, hasratku sama dengan hasratmu semua, kalau kamu ingin tahu luasnya samudra, aku ingin tahu juga luasnya alam raya yang tak terhingga itu, indahnya tak terkira, maka aku rela kalau sewaktu-waktu ditangkap dan mereka senang atas ketiadaanku, aku juga berpesan kepadamu kalau ada yang menangkapmu dalam pertarungan saling mencari, relakan karena engkau nanti akan menjadi persembahan atas nama Sang Pencipta ini, seperti yang pernah aku lihat teman-temanku yang mati dengan sorak sorai manusia yang lucu-lucu itu, seperti gembiranya pesta penganten saja, nikmatilah keberadaanmu, asyiklah dalam penantian ini untuk saling bercengkrama, kalau mutiara yang kita hina di kedalaman ini, di ranah manusia menjadi sarana pamer dan saling membunuh, hahahaha lucu kan, ketika aku kasih isyarat dengan menyemprotkan air ke atas untuk menawarkan tangkaplah aku, malah ada yang datang hanya ingin bercanda seperti aku dengan dirimu semua ini, bukan membunuhku, kalau kamu ikhlas minggirlah ke pantai nanti kamu semua akan melihat makhluk yang namanya manusia yang lucu itu, dengan resiko akan ditangkapnya, tapi juga ada yang hanya terpesona oleh tarianmu bersama itu, mereka foto-foto terus bisa dijual gambarmu, lain waktu kamu dimakannya dengan tanpa merasa bersalah atas jasamu memberi uang itu, maafkan aku kawan-kawan, mulutku tak mampu membahasakan semuanya ini, maafkan, sekian saja dulu besok lagi kita bisa kumpul bersama, nyalakan hasrat yang sama.

Sebelum perpisah wahai sang penjelajah--ikan teri merajuk--seberapa luas samudra ini, supaya kami bisa lebih tenang mengambil sikap keberaan kami yang keci-kecil ini? Wahai kawan-kawan--jawab paus, singkat saja kalau kau tetep ngeyel ingin tahu seberapa luas samudra ini, isinya sebenarnya hanya air melulu, dimana-mana itu, seperti juga setetes air yang menempel di tubuhmu itu. Walau kamu berjubel seperti itu, jagalah pasangan saling mencinta, jangan berselingkuh ya, ada kabar dari daratan manusia itu saling berselingkuh, sukanya petualangan mengumbar syahwat, padahal berjubel perempuan itu kalau lelakinya menyadari, juga rasanya seperti seonggok daging yang ada didepannya itu….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar