Selasa, 10 Mei 2011

Dunia Cinta

Sedulurku tercinta, pagi ini aku melihat berita adanya sampah yang menggunung setelah perayaan tahun baru, dan tentu barang-barang itu tadinya merupakan sesuatu yang sangat mempesona jiwa-jiwa, setelah merasakan isinya dibuanglah kulit atau wadahnya. Dalam sebuah taman kota tentu sudah tersedia bak sampah, namun karena kuantitas sampah yang sedemikian banyaknya maka orang membuangnya begitu saja, di mana mereka mau.

Aku lihat plastik-plastik pembungkus makanan,terompet-terompet yang hancur, bungkus mercon, sisa-sia makanan, bahkan ada kaos-kaos yang lusuh disapu bersih oleh petugas pembersih kota. Dengan adanya sampah ini terbayang olehku sebelumnya, dibalik bungkus-bungkus itu ada makanan yang mereka rasakan, dibalik terompet-terompet itu ada suara-suara menggesa menembus asa, dibalik sisa-sia makanan itu ada yang tak tertampung di perutnya, dibalik kaos-kaos lusuh itu ada pesona temporal yang membalutnya, dibalik semua yang terbuang itu ada kegembiraan yang dibawa pulang ke rumahnya, setelah lelah, setelah lunglai, setelah payah, setelah, setelah, setelah, setelah.

Bekas dari kegembiraan sesaat ini ternyata punya matarantai, dimana kelelahan ini dibaringkan, dimana melilitnya perut karena kekenyangan itu pada ujungnya akan dibuang, dimana semua kehendak nafsunya itu akan di letakkan. Ternyata ujung dari kegembiraan sesat ini tergiring pada pembaringan di tempat tidur, ternyata kekenyangan atas kehendak-kehendak itu berujung pada pencarian toilet-toilet, bahasa kasarnya kakus, bahasa "keren"nya WC itu. Pada saat yang sama aku melihat peristiwa ini, terbayang olehku saat itu Kanjeng Nabi SAW berdiri di dekat tempat sampah, lalu beliau bersabda: Mari kita lihat dunia! Kemudian beliau mengambil pakaian usang dan rusak di tempat sampah itu, berikut beberapa tulang yang hancur. Beliau bersabda: Inilah dunia, sebagai lambang bahwa perhiasan dunia akan rusak seperti pakaian ini, dan tubuh-tubuh yang engkau lihat akan hancur seperti tulang-tulang ini, sesungguhnya dunia adalah sesuatu yang manis dan hijau, dan Allah menciptakan kamu sebagai penguasanya, dan Dia selalu memicing bagaimana kamu memperlakukan dunia, sesungguhnya bangsa Bani Israil telah diberhasilkan urusan dunianya, dan mereka berhamburan gemerlap perhiasan, wanita, wangi-wangian dan pakaian.

Aku yakin, tukang pembersih sampah-sampah itu terpercik cahaya di hatinya sebagaimana sabda Kanjeng Nabi itu, mereka tidak merasakan pesona pestanya tetapi menetes dihatinya pesona cahaya yang menjadikan mereka tidak sekedar tukang sapu dan pembersih kota, tetapi pembersih kotoran yang berujung pada kesimpulan bahwa dunia bagai sampah itu, merekalah pembersihnya. Tukang sapu kalau demikian bisa dibaca bukan sekedar cinta dunia, tetapi menanjak merasakan dunia cinta yang sangat mendalam, semoga.

Kanjeng Nabi SAW juga mengisahkan ketika Nabi Adam as makan buah khuldi bersama Ibu Hawa, maka perutnya melilit-lilit ingin memuntahkan kotoran, dan tidak dijadikan makanan sesuatupun kecuali buah ini, maka dari itu keduanya dilarang untuk memakannya, maka Nabi Adam as kemudian bergerak mengitari surga, dan Allah mengutus malaikat untuk menanyainya. Dia berfirman: Katakan apa yang dia kehendaki? Nabi Adam as pun menjawab: Aku ingin membuang kotoran yang menusuk dalam perutku. Difirmankan kepada malaikat: Katakan padanya, dimana kamu ingin membuangnya? Di atas tempat tidurkah, tahta, sungai-sungai atau dibawah pepohonan? Apakan ada tempat di sini yang pantas untuk itu? Maka turun sajalah ke dunia....

Kawan-kawan, kini kita anak cucu Nabi Adam as berada di dunia, maka kisah di atas mengajarkan akan kesadaran bahwa dalam ranah Cinta kita tidak perlu putus asa, karena Cinta bisa mensucikan segala yang najis, maknanya mari yang material kita rokhaniahkan, yang benda kita transedenkan, yang duniawi kita ukhrawikan sesuai dengan panduan Cinta yang diamanatkan kepada kekasih-kekasihnya itu, pada kesimpulan yang baku Kanjeng Nabi saw menyatakan: Dunia adalah ladang Akhirat itu....

Alangkah indahnya--dalam pandanganku, tukang-tukang sapu itu, jazakumullah....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar