Minggu, 08 Mei 2011

Buih Cinta

Sedulurku tercinta, ada pepatah: kuman di seberang lautan tampak sementara gajah di pelupuk mata tidak tampak, dalam ranah Jawa ada ungkapan: lihatlah tengkukmu sendiri [delengen ghithokmu dewe]. Pernyataan ini tentu hasil dari perasan pengalaman hidup, dimana orang sering cermat mengomentari dan mendiagnosa keburukan orang lain sementara ia lupa kepada keburukannnya sendiri, yang amat sangat besar. Makanya Dia melarang untuk bersikap demikian, disamping lucu tetapi juga menunjukkan kebodohan itu sendiri. Kuncinya adalah: siapakah orang lain itu? Padahal dalam ranah Tauhid Kesatuan, orang lain itu sebenarnya adalah diri kita sendiri.

Lihatlah pernyataan Kanjeng Nabi SAW, bahwa merawat satu orang pahalanya sama dengan merawat seluruh manusia dan membunuh satu orang dosanya sama dengan membunuh semua manusia. Dalam berbagai tulisan aku sampaikan ungkapan Rumi, bahwa dunia bagai sebuah gunung itu, dimana baik dan buruknya tergantung suara kita itu, dan akan kembali kepada kita, baik buruk itu.

Jadinya, kalau aku melihat tulisan atau ungkapan serta tindakan yang mencitrakan keburukan orang lain, maka aku tersenyum saja dengan asumsi: lucu dan silahkan sakit hati sendiri. Mustinya, semua kejadian ini harus direnungkan dan diselami dari sudut pandang yang orkrestatif itu, sehingga nanti ujungnya akan menetes kesadaran bahwa tidak ada yang salah dalam dunia ciptaanNya, kalau orang Jawa paling banter akan menggesa dengan sebuah huruf: Oooo, yang dijadikan suluk dalam dunia pewayangan itu. Makanya orang Jawa punya cara pengalihan yang agung bila menyangkut kritik keburukan dalam bentuk dialihkan kepada wayang, yang asli maknanya adalah bayang-bayang itu, bayang-bayang untuk menerangkan karater, bukan menuding manusianya. Bayang-bayang itu selubung, yang menunjukkan bukan aslinya, sehingga manusia harus ekstra hati-hati manakala menyangkut orang lain, soal keburukan itu, sebab kalau tidak hati-hati maka ia akan berseberangan dengan kehendak CintaNya.

Andai kita memandang samudra, jangan hanya sebatas buihnya karena cara ini akan menutupi semua keberadaan yang terkandung dalam samudra itu, artinya [lagi-lagi] jangan memandang bagian-bagiannya namun pandanglah kemenyeluruhannya itu. Andai benar bahwa buih itu kita pandang, maka ketahuilah bahwa dalam metabolisme samudra buih-buih itu akan diproses dan dikemas menjadi pasir yang indah di pinggir pantai....

Kawan-kawan, kecanggihan sarana media jangan menjadi corong atas kebodohan kita dalam hal menghakimi dan mengomentari pihak lain, jadikan saja kecanggihan sebagai sarana ini untuk tujuan berbagi Cinta dan kasih sayang di bumi, misalnya soal sepakbola nanti malam. Kalau toh ada ketegangan itupun sebagai bunga-bunga, dan aku yakin ketegangan yang tetap disemangati Cinta, pada ujungnya akupun mendendangkan suluk: Oooo.... Bumi gonjang-gajing, Langit kelap-kelap "katon"....

Punten.

1 komentar: