Rabu, 04 Mei 2011

Dilema Cinta

Sedulurku tercinta, aku menyadari akan keterbatasanku dan tidak punya nyali untuk merendahkan pihak manapun dalam hidup ini, semua ini aku sadari atas kebodohanku atau pemahamanku yang amat sangat terbatas ini--terhadap semua aspek kehidupan. Ungkapanku ini sekedar bahasa, dimana bahasa memiliki kelemahan dalam mengungkap seluruh relung kesadaran manusia, tetapi kalau tanpa bahasa maka komunikasi antar manusia menemukan kesulitan.

Misalnya, aku sependapat dengan Syech Ibnu Arabi, dimana beliau mengatakan: kalau boleh aku sebut bahwa Islam itu adalah agama cinta. Islam di sini bagiku memilki arti generik, dimana maknanya adalah penyerahan diri ini kepada Allah dalam bentuk doktrin dan ritual beraneka ragam sesuai dengan pengalaman dan sejaran sosial setiap orang. Pemahamanku ini sederhana, Islam hadir sebagai rahmat bagi alam dan seluruh umat manusia, dimana praktik keberagamaan yang dilakukan pemeluknya ini bisa memberi manfaat bagi semua orang: mukmin atau kafir, muslim atau nasrani, yahudi, budha, atau hindhu, dan pemeluk agama lokal lainnya.


Ciri universalnya ada, dimana ajaran Islam bisa diwujudkan tanpa harus membuat semua manusia memeluk atau memahami dan mempraktekkan ajaran Islam seperti konstruksi yang disusun sepihak, dimana kesepihakan itu yang pada ujungnya akan melahirkan saling mengklaim kebenaran milik golongannya itu. Kesepihakan ini jelas akan terasa lucu dan aneh, karena pemeluk agama dari sudut pandang ini akan mengingkari makna Tuhan Yang Maha Ghaib [misterius] yang tak terbahasakan oleh manusia.

Akhirnya nampak jelas bahwa Tuhan dalam hal ini telah diberangus pemeluk ajaranNya sendiri menjadi sebuah "kuasa"--bukan Cinta, yang dipaksakan hanya memihak satu golongan umat manusia. Dalam ranah "kuasa" akan semakin jelas bahwa yang ada hanya aspek menang kalah--Rumi menyebut Fir'aun dalam agama, kesalehan agama menjadi musnah dan lahirlah konflik yang mencitrakan agama sebagai biang kehancuran peradaban dan akar kebiadaban umat manusia--atas nama Tuhan itu.

Tidak adakah suatu kemungkinan pemeluk suatu agama mengedepankan kesalehan sesuai dengan keyakinan agamanya sehingga membuat orang lain yang berbeda kepemelukan dan paham keagamaan bisa tertawa gembira? Islam dengan makna kepasrahan kepada Dia yang misteri itu harus membuktikan manfaat ajaran-ajarannya untuk mengembangkan hidup dengan penuh kesantunan, agar kesalehan bukan hanya bagi Tuhan, tetapi bagi upaya pembebasan manusia dari penderitaan hidup, kemiskinan, kebodohan, teror, dan ketakutan itu.

Inilah citra Cinta yang dimaksud oleh Syech Ibnu Arabi itu, dimana kesucian ajaran-ajaran terbebas dari kepentingan ekonomi dan politik, dan pemahaman akan hadis bahwa tiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, masyarakatlah yang membuatnya menjadi agama tertentu itu. Kalau toh ternyata fitrah di sini dimaknahi agama Islam, maka perlu dicermati apakah Islam dalam konstruksi politik atau Islam generik ketundukan pada hukum keselamatan dan kedamaian Tuhan--inilah dilemanya.

Kalau ternyata Islam dibingkai dalam konstruksi politik, maka wajah citra Cintanya akan hilang, namun bila dirunut dengan makna ketundukan pada kedamaian Tuhan, maka Islam akan hadir di bumi menebar CintaNya itu, tanpa batas. Misalnya ajaran tentang jihad, Kanjeng Nabi saw menyatakan: Jihad bukan semata-mata berarti pergi berperang di jalan Allah dengan pedang terhunus di tangan, tetapi juga berarti memenuhi kebutuhan hidup umat manusia sehingga seluruh manusia tidak malu dan menderita karena kelaparan dan ketakutan. Pada pesan yang lain, Kanjeng Nabi saw menyatakan: Ada banyak dosa di antara dosa-dosa yang tak mungkin dihapus hanya dengan shalat dan puasa, tetapi dengan jerih payah dan kesulitan bekerja memenuhi kebutuhan hidup....

Kawan-kawan, sejarah peradaban umat manusia selalu berkisah tentang fakta perbedaan keberagamaan dan paham keagamaan di bumi manapun. Jelasnya merasa benar sendiri dan menang sendiri dalam bentuk keinginan kesalehan individual dan kelompok berarti sebagai upaya penghancuran peradaban. Rumi menyatakan: bunuhlah dirimu agar engkau bisa menghidupkan orang lain, sehingga engkau bisa naik ke langit lapis tujuh, serta Gibran menyatakan: ketika jiwaku menasehatiku, baru aku sadar bahwa orang lain itu ialah diriku, dosanya adalah dosaku, dan deritanya adalah kepedihanku....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar