Sabtu, 03 Juli 2010

MasyaAllah Cinta

Sedulurku tercinta, ketika aku beserta istri mengantarkan anak-anak mau sekolah dan modok di Pesantren Kudus, mampir ke sebuah toko untuk belanja belbagai kebutuhan selama di Pesantren. Sambil menunggu belanja, aku ngobrol sama tukan sol sepatu sandal di emperan toko itu. Selama itu, aku merasa asyik dengan dia karena tukang sol sandal dan sepatu itu senang kisah-kisah yang menakjubkan dalam ranah adab dan sopan santun.

Begitu aku gantian berkisah, dia letakkan palu dan tali-tali lembut warna kecoklatan dan jarum penusuk sandal dan sepatu. Sorot matanya tajam menatapku: tatapan mata rindu Kanjeng Nabi. Kala Kanjeng Nabi sedang berkhotbah di suatu tempat--aku mulai berkisah--beliau melihat sebatang pelepah korma yang sudah rapuh tergeletak. Seketika itu kanjeng Nabi menghentikan pidatonya dan menyambangi itu pelapah korma yang sudah rapuh. Kanjeng Nabi meneteskan airmata sambil mengelus-elus itu pelepah. Ditanya sahabat: kenapa engkau menangisi pelepah rapuh ini wahai Rasulullah? Iya--Kanjeng Nabi menjawab--pelepah korma ini pernah menemani hari-hari sulitku, untuk aku jadikan tongkat kala berkhutbah.

Aku lihat reaksi tukang sol itu, sambil geleng-geleng kepala karena ketakjuban atas penghargaan jasa batang pelepah korma, dengan getar bibirnya: masyaaAllah! Kenapa--aku tanya--kok menggesa masyaaAllah? Aku--katanya--terkenang jasa orang-orang yang telah berbuat baik kepadaku.
Kala Kanjeng Nabi menggendong bayi dari seorang Ibu--kisahku berlanjut--tiba-tiba bayi itu pipis. Ibu itu langsung merebut bayinya dari timangan beliau, karena malu anaknya mipisi pakaian Kanjeng Nabi. Beliau lalu mengingatkan kepada Ibu itu: Ibu, aku tahu hatimu, kalau soal pakaianku dipipisi anakmu, ini kan bisa dicuci, tetapi kasarmu mengambil anak ini dari timanganku, itu yang tidak bisa diganti.

Lagi-lagi tukang sol itu menggesa dengan lebih keras: masyaaAllah! Kenapa Pak--aku desak lagi dia. Jawabnya: aku terkenang kekasaranku pernah memukul anakku, ternyata pukulan itu dikenang sampai dia dewasa kini, aku sangat menyesali diri, aku malu kepada Kanjeng Nabi itu, andai beliau melihatku.
Kala Kanjeng Nabi melintasi sebuah gurun padang pasir nan terik--kisahku lagi--Beliau melihat tukang pemecah batu, maka berhentilah beliau lalu mendekati itu orang pemecah batu yang tubuhnya terpanggang panasnya matahari di gurun sahara. Beliau tahu, pekerja kasar seperti dia itu, demi memberi makan anak-anaknya secara halal dan barokah, bekerja seperti itu dalam rangka menghindari suara-suara nafsu: mencuri, merampok, nyopet dan lain sebagainya. Sehingga pernah keluar dari bibir suci beliau, kalau orang yang bekerja keras dan kasar itu bisa menjadi tebusan dosa-dosanya.
Aku lihat mata tukang sol sepatu itu meneteskan airmata, ia seka dengan tangan kanannya, keluar tambah deras itu airmata. Lalu Kanjeng Nabi--setelah uluk salam kepada tukang pemecah batu--kemudian mencium tanganya seraya dawuh: sebab tanganmu bekerja ini, engkau tidak akan tersentuh api neraka....

Kawan-kawan, tukang sol itu menjerit: masyaaAllah!!! Aku tidak sempat lagi bertanya kepada dia kenapa, karena dia menangis sesengguan, aku pun menangis bahagia melihat hati orang itu, hati yang dilanda rindu kepada orang yang paling cinta kepada Allah itu. Kisah itu mungkin mengandaikan dirinya, asal tidak mencuri, merampok, demi kehalalan untuk menyuapi anak-anak-istrinya, biarlah jadi tukang sol sepatu dan sandal, dia ridho.

Aku pamit dengan linangan airmata, dengan merasa bahwa hatiku kalah rindu dengan hati tukang sol sandal dan sepatu itu. Istriku bertanya, kenapa menangis Mas? Aku jawab: tidak apa-apa Dik, tidak apa-apa, tetapi airmataku tak bisa menipunya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar