Rabu, 10 Agustus 2011

Warisan Cinta

Sedulurku tercinta, pagi ini aku menerima tamu, hubungan dia denganku adalah Om Mas'an, ia anak seorang orator ulung di zamannya, K.H. Amin Dimyati [meninggal usia 72 tahun], aku memanggilnya mBah Amin, dikenal pada publik namanya Jimin [Kaji Amin], pertalian denganku sebagai kakek.

Sepanjang aku mengikuti perjalanan melayani masyarakat, terutama dalam berdakwah atau pun kesehariannya, aku memperoleh warisan spirit atau hasrat yang menyala, maka di mataku beliau selalu nampak muda walau usianya sudah tua itu. Kalau boleh ingin tahu, aku bisa cas-cis cus ini percikan cinta dari beliau itu, dimana tutur bahasa, gaya ketika berada di tengah acara pengajian, termasuk sopan santun dalam hubungan dengan siapa pun, sosok yang rilek namun dalam dirinya memancar kesungguhan yang menggugah setiap jiwa.

Salah satu pesan dari beliau manakala bertamu kepada orang-mulia, maka bila duduk lesehan maka dudukku diperintahkan tahiyat awal atau tahiyat akhir itu, duduk yang melambangkan kerendahan hati. Setiap perjalanan didikmati dengan penuh keintiman waktu, misalnya dengan berdendang syair, berkisah dalam banyak hal yang nuansanya anekdot sufistik, tadarrus ayat-ayat Qur'an, selebihnya adalah istirahat di mobil [Colt T].

Kemudian satu hal yang aku sebut warisan spirit adalah saat beliau itu berada di panggung atau mimbar pengajian, dimana dalam usianya yang sudah sepuh, sering batuk-batuk, dan kadang-kadang berangkat dalam keadaan sakit, namun begitu mulai pengajian hal-hal yang aku sebut derita itu musnah, aku melihat beliau sehat dan suaranya bagai anak muda yang penuh gelora, tanpa meninggalkan humor-homor segar yang filosofis itu.

Yang lebih terkesan adalah, saat beliau sakit dan dilarang berangkat mengisi pengajian karena menghawatirkan kesehatan beliau, Ibu Nyai melarang sambil menangis, dan beliau malah marah dengan mengatakan: Setan kamu, ngaji kok kau halangi, dengan gandrung [cinta] sakit bisa hilang dan sembuh, tahu nggak? Adalagi pesan dari beliau: kalau kamu memberikan sesuatu kepada orang lain, berikanlah yang paling kau sukai. Persis saat beliau mau meninggal, semua sudah dibagikan kepada anak cucunya, bahkan pakaian pun semua dihadiahkan kepada siapa yang beliau kehendaki, sehingga pas saat meninggal yang tersisa hanya yang beliau pakai itu.

Perawakannya memang kecil, namun cita-citanya besar, dari dalam dirinya ada semacam titik yang berkilau, selalu memendarkan percikan kehidupan, melalui cintanya aku melihat daya tahan kehidupan, semakin kukuh, semakin berkilau itu. Ada semacam api dari cinta, dan selalu belajar, belajar dan belajar bagaimana mencahayai cahaya dengan api cinta itu, sehingga mengikuti atau dekat dengan beliau aku terbawa dalam kedamaian, bahkan di tengah ada masalah sekalipun.

Cinta yang beliau tampilkan adalah air kehidupan yang menumbuhkan taman dalam hatiku, walau beliau juga mengajarkan cinta itu juga pedang yang tajam, dimana aku dituntut belajar seni menjadi pecinta dan berhasrat dalam mencinta, untuk merangkul siapa pun yang mencintai Allah, juga mencintai barang yang mendekatkan cinta ke Allah, sampai aku harus bisa mencium wewangian akhlak yang akan mengantarkan ke gerbang kemuliaan hidup dunia akhirat ini.

Lagi-lagi sebelum aku kenal Rumi, aku ditunjukkan beliau makna cinta yang menjadi harta karun dalam hidupku, karena cinta duri menjadi mawar, karena cinta cuka menjadi anggur segar, karena cinta keuntungan menjadi mahkota penawar, karena cinta kemalangan menjelma keberuntungan, karena cinta rumah penjara tampak bagaikan kedai mawar, karena cinta tumpukan debu kelihatan seperti taman, karena cinta api yang berkobar-kobar jadi cahaya yang menggembirakan, karena cinta "syetan" bisa berubah menjadi "bidadari", karena cinta batu yang keras menjadi lembut bagaikan mentega, karena cinta duka menjadi riang gembira, karena cinta "hantu" berubah menjadi "malaikat", karena cinta singa tak menakutkan seperti tikus, karena cinta sakit jadi sehat, karena cinta amarah dan dendam berubah menjadi keramah tamahan.

Kesaksian ini bagiku adalah warisan yang mahal, misalnya pernah beliau itu diundang di daerah Tuban, karena mBah Amin ini dikenal keikhlasannya maka orang Tuban ini niat menguji kepada Kakekku itu, menghadiri acara sampai lima kali dengan jarak tempuh jaman dulu yang amat jauh itu, dari Purwodadi ke Tuban, pulang tanpa dikasih transpot sekalipun. mBah Amin ini tanpa mengeluarkan statemen sepatah pun soal ini, biasa-biasa saja, tanpa beban, dan tetap berangkat menemui jama'ah yang datang di Tuban itu. Baru untuk yang ke enam kalinya [karena pengajian rutin tahunan], orang yang niatnya menguji itu mohon maaf sambil menangis sesenggukan kepada beliau dan menyerahkan transpot dari sejak keberangkatannya yang pertama itu, Yai tetap biasa-biasa saja dan ditanggapi dengan guyon...

Kawan-kawan, inilah yang aku sebut warisan cinta itu, dimana warisan ini aku bawa sampai hari ini, kehadiranku dimana dan kapan, aku jauhkan dari kalkulasi manajemen yang profesional itu, dengan tanpa aku memperolok siapa pun yang memakai menejemen profesional. Amalku amalku, amal mereka ya amal mereka, semacam bagimu agamamu bagiku agamaku itu. Sosok seperti baliau bagiku adalah kidung cinta yang mengalun, bagai dendang Gibran: Hakekat cinta adalah rintihan panjang yang dikeluhkan oleh lautan perasaan kasih sayang, cinta adalah cucuran air mata kepedihan langit pikiran, ia adalah senyuman ceria kebun-kebun bunga jiwa, cinta adalah sarana untuk memahami dua jiwa, ia bukan kata-kata yang datang dari bibir dan lidah yang membawa hati bersama-sama, tidak ada yang lebih besar dan suci daripada apa yang diucapkan mulut, ia memancarkan jiwa dan membisikkan hati kita, membawa bersama-sama, cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia, karena cinta membangkitkan semangat yang hukum-hukum kemanusiaan dan gejala-gejala alami pun tak bisa mengubah perjalanannya, cinta adalah misteri suci...

Salam Hangat dari Rumah Cinta....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar