Kamis, 11 Agustus 2011

Terkaman Cinta

Sedulurku tercinta, betapa banyak keburukan yang kita lihat pada orang lain itu tak lain adalah sifat kita sendiri yang terpantul pada diri mereka, semua yang nampak pada mereka adalah diri kita: kemunafikan, ketidak adilan, dan keangkuhan itu. Kita tak mampu melihat jelas keburukan dalam diri kita, kalau sampai kita tak sampai melihat keburukan dalam diri kita itu maka kita akan membenci diri kita sendiri dengan seluruh jiwa kita.

Aku mendengar kabar seorang istri ditampar oleh suaminya kala ia nerocos hanya melihat keburukan suaminya. Aku mendengar seorang suami ditikam istrinya karena tak mampu mengenang kebaikan istri, dan hanya memperolok keburukannya. Aku mendengar sebuah kelompok diserang kelompok lain karena kelompok itu tak mampu melihat keburukan kelompoknya sendiri, malah memburu kejelekan dari kelompok lain itu. Aku mendengar antar negara berperang karena hal itu, aku mendengar antar pebisnis hancur karena hal itu, aku mendengar politikus ambruk karena hal itu, aku mendengar antar pejabat runtuh karena hal itu, aku mendengar antar tokoh musnah karena hal itu, aku mendengar antar kekasih putus karena hal itu, aku mendengar antara satu dengan yang lain hilang karena hal itu.

Lihatlah dalam sejarah sebagai kesaksian, Fir'uan tak berdaya kala menyerang Musa, Namrud lunglai kala menyerang Ibrahim, Abu Jahal Abu Lahab habis karena menyerang Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dan carilah kisah sejenis dalam perjalanan peradaban maka nanti akan ketemu dengan ujung yang sama, mereka diterkam oleh dirinya sendiri karena tak mampu melihat keburukannya sendiri. Adalah mudah meneliti dan menghancurkan orang lain, namun menganggap mudah atau gampang menaklukan dirinya sendiri itu merupakan ketololan dan kebodohan. Jalan pintas dengan mengedepankan keburukan orang lain adalah bentuk nyata dari keputus asaan akan keabadian ruh, dikira kehidupan ini tanpa pemilik yang terjaga itu, dikira keburukan orang lain itu tanpa ada yang menghisabnya, dikira keburukan orang lain itu tanpa ada yang menyaksikannya, dikira keburukan orang lain itu bukan bagian dari proses perjalanan ruh itu, dikira kejadian langit dan bumi ini serta pergantian siang dan malam hari ini sia-sia sehingga semua nampak salah dan buruk adanya, dikira, dikira, dikira, dikira.

Tuhan telah memasang tangga dihadapan kita, kita harus mendakinya, setahap demi setahap, dan masing-masing orang memiliki tangga yang disediakan Tuhan ini, ya masing-masing orang. Kita punya kaki jangan dibiarkan lumpuh, kita punya tangan jangan dibiarkan tak menggenggam, kita punya mata jangan dibiarkan tak memandang, kita punya hidung jangan biarkan tak mencium wewangian ini, kita punya lidah jangan biarkan tak mengkidungkan kalam sucinya, kita punya telinga jangan biarkan tak menikmati melodi estetika ini, kita punya akan jangan biarkan tak merenungkan realitas ini, kita punya hati jangan biarkan tak mengenang semua karunia ini, kita punya farji jangan biarkan tegak kecuali kepada istri ini, kita punya, kita punya, kita punya.

Banyak orang merindukan kebebasan malah terbelenggu, karena kebebasan kehendak adalah upaya untuk bersyukur kepada Tuhan atas karunia ini, tanpa ikhtiar adalah mencampakkan karunia ini. Bersyukur karena mampu bertindak bebas akan menambah kemampuan bersyukur kepada Tuhan itu. Bergurulah kepada kegigihan para perampok itu dalam perjalanannya, mereka mereka terjaga dengan segenap cita sampai melihat gapura dan pintu gerbang.

Bukankah kita sebagai hamba dengan hakekat sebagai kekasihNya dalam perjalanan hidup ini harus terjaga dengan kegigihan dan hasrat yang menyala, melebihi sekian ribu kali dengan kegigihan perampok itu, yang pada ujungnya kita mengapai gapura dan pintu gerbangNya itu. Jangan hancurkan dirimu, jangan hancurkan rumah tanggamu, jangan hancurkan kelompok, jangan hancurkan suku, jangan hancurkan pemerintahan, jangan hancurkan negara dan bangsa, tetapi hentikan kebanggaan diri, hentikan hawa nafsumu sendiri, karena setiap saat hawa nafsu melahirkan tipu muslihat, dan dalam tiap tipu muslihat terkandung ratusan Fir'aun dan bala tentaranya itu.

Jangan diri ini bagai Singa kala mau minum di telaga, ketika ia melihat di telaga ada bayangan dia, kemudian ia menerkamnya karena dianggap sebagai musuhnya itu. Jangan dikira aku sepakat dengan keburukan dunia ini, jangan dikira aku tak peduli dengan: kenapa bensin naik, lombok mahal, pupuk sulit, listrik naik, anak-anak banyak yang terlantar dan seterusnya. Aku justru akan menemani mereka yang hancur hatinya itu, Tuhan ada di sana, ya Tuhan ada di sana, mendekati dan menemani serta membebaskan mereka dari derita adalah bagian dari ikhtiar hidupku mendekatiNya itu, walau hanya beberapa orang, walau seorang sekalipun....

Kawan-kawan, mari kita memohon pertolongan Tuhan untuk mengendalikan diri itu, untuk tidak cerdas mencari keburukan orang, yang masing-masing disediakan tangga olehNya ini, kemurungan diri kita dan penderitaan diri kita yang menimpa adalah akibat "ketidak sopanan" dan keangkuhan kita, orang yang akhlaknya tidak sopan di jalan kehidupan ini adalah seorang perampok yang menyamun manusia, dia bukan manusia, ketidak sopanan matahari menyebabkan gerhana, kesopanan malaikat menjadikan ia suci, disiplin langit menjadikan cahaya, keangkuhan menyebabkan 'Azazil terdepak dari pintu gerbangNya....

Ampuni hamba ya Allah...

3 komentar:

  1. Matur Nyai Budi pencerarahanipun
    Nyai Budi..
    Kulo, insyaAllah kaliyan rencang-rencang Gambang Syafaat nyuwun kanti sanget kerso "ngemong" malih.
    Kraos benten sanget sakwekdelipun Nyai Budi mboten rawuh.
    Maturnuwun sanget sakderengipun

    BalasHapus
  2. kok mboten di share lagi karya terbaru pak yai di sini

    BalasHapus