Rabu, 10 Agustus 2011

Kehilangan Cinta

Sedulurku tercinta, aku merasakan pesan Kanjeng Nabi SAW yang sebelumnya didahului bahwa barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik, dan kalau tidak bisa maka diamlah. Kalimat suci ini bila direnungkan akan menggiring kita pada titik memilih diam bila tak mampu berbicara yang baik, bicara [atau menulis] yang pada ujungnya akan menawan hati manusia, menyenangkan orang lain itu. Ini pesan bagi kita yang terbiasa ngomong atau menulis, lacaklah dasar nawaitu itu agar kita tak akan kehilangan cinta. Hal yang paling harus disadarai adalah manusia itu ada komunitasnya, ada kelompoknya, ada gerombolannya, ada jamaahnya, ada keluarganya, ada, ada, ada.

Dalam setiap keberadaannya itu, jelas bahwa masing-masing punya reposisi yang punya peran dalam metabolisme semesta raya, dimana Allah meletakkan dan memproses sesuai irodahNya, yang pada ujungnya pasti tak akan ada yang salah itu, Maha Suci Dia, Maha Suci Dia, Maha Suci Dia, tak ada yang sia-sia itu. Aku sebenarnya merasa ngeri manakala melihat realitas, yang pada akhirnya akan menggiring pada kehilangan cinta itu. Misalnya aku bicara kasar sama istriku, diam-diam ada anakku yang menohokku: Ayah, jangan sakiti Ibu. Ketika aku mengatakan kasar sama anakku, setelahnya Istriku nylethuk: Ayah, jangan sakiti anakmu. Momen sedekat di rumah saja, bagiku menggores sedalam bahwa aku merasa kehilangan cinta atas tindakanku itu, yang ternyata membutuhkan waktu yang lama untuk kembali kepada suasana semula.

Andai aku disuruh memilih, maka bila tak bisa menetes di hati manusia dengan perasaan senang dan gembira, aku akan memilih diam, aku akan memilih diam, aku akan memilih diam. Terus aku lebarkan sendiri, bila aku mengatakan sesuatu atau menulis sesuatu atau bertindak sesuatu kepada sosok atau kelompok dengan meneteskan kebencian, maka aku merasa kehilangan cinta dari siapa pun yang mencintai mereka itu karena aku yakin sebejat penjahat pasti ada komunitasnya itu, jangan kan manusia hewan saja memiliki insting atau tabi'at membela kawannya itu. Sebaliknya manakala aku mencintai apa dan siapa [dengan cara bertutur dan bertidah baik], maka aku merasa memperoleh limpahan cinta dari apa dan siap itu, karena hal ini sangat menawan hati yang bagai menanam benih yang baik, pada ujungnya kita sendirilah yang akan mengetamnya itu.

Dalam pandangku, jangankan sebuah komunitas atau gerombolan, sosok seseorang saja bagiku bagai memandang samudra itu, dimana sebesar kejahatannya aku abaikan karena dalam sentuhan lembut tanganNya, di dadanya ada ribuan taman yang indah itu, walau mereka sendiri belum merasakannya. Dalam ranah samudra aku tak akan melihat hanya buihnya, namun akan aku selami pesona-pesona yang tak terhingga itu sampai pada titik menemukan mutiara-mutiaranya, dalam memandang buih pun masih saja akan aku prasangkai dalam dunia proses buih pun akan berujung menjadi butiran-butiran pasir yang menjadi penghias indah di pinggir pantai itu.

Sampai titik kulminasi ini ada rumusanku: terhadap diri aku beranikan mengedepankan aib-aibku, terhadap orang lain aku selalu cari kebaikan-kebaikannya itu. Pada dataran ini bila ada pihak lain yang menjelek-jelekkan diriku, maka amat jelas bahwa mereka membantu diriku dalam pencarian aibku sendiri itu, pasti aku berterimakasih, dalam simbolik "pingsut" bila ada yang mengedepankan jari telunjuknya [karena menuding-nuding sesuatuku] maka akan aku ajukan jempolku, sebaliknya bila ada yang mengedepankan jempolnya [karena memujiku], maka akan aku ajukan kelingkingku itu.

Kanjeng Nabi saw adalah sosok yang menunjukkan ketakhilangan cinta itu, dimana apa dan siapa beliau cintai, makanya cinta ikhlasnya pada umat manusia bagai cahaya suawarga dan siapa pun tak akan mampu mebalasnya, kecuali hanya dengan bersahaja, ya dengan bersahaja, bersahaja. Karena cinta yang tanpa batas dan tanpa tepi itulah yang menjadikan beliau dicintai Allah Yang Memiliki segalanya ini. Dalam kongklusi diriku ada wewangian dari beliau: cintailah apa dan siapa namun lebih cintalah kepada yang membikin apa dan siap itu, jangan benci apa dan siapa karena apa dan siapa ada pemiliknya itu....

Kawan-kawan, aku tak ingin kehilangan cinta darimu, dan cinta dari orang yang mencintaimu, aku tak akan membencimu karena aku sangat takut yang memilikimu akan membenciku, aku tak berani memperolok dirimu karena hal itu hakekatnya memperolok diriku, aku tak akan menghina dirimu karena aku sebenarnya lebih hina dari dirimu, aku tak akan menghakimimu karena aku sendiri dalam posisi dihakimi olehNya ini, aku tak akan membodoh-mbodohkan dirimu karena ternyata aku lebih bodoh dari dirimu, aku tak akan menajis-najiskan dirimu karena aku merasa lebih najis dari dirimu, aku tak akan melawanmu karena aku merasa sering gagal melawan diriku sendiri, aku, aku, aku, aku, aku, tak ingin kehilangan cintamu....

Huhuhuhuhuhuhuhu...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar