Ya Allah,
Ilhamkan kepada kami ketaatan kepadaMu
Jauhkan dari kami maksiat kepadaMu
Mudahkan kepada kami meraih apa yang kami cari dari ridhoMu
Tempatkan kami pada puncak surgaMu
Singkirkan dari pandangan kami kabut keraguan
Singkapkan dari hati kami tirai kebimbangan
Hancurkan kebatilan dari kalbu kami
Teguhkan kebenaran pada hati nurani kami
karena ragu dan syak wasangka mengundang bencana
dan mencemari kesucian pemberian.
Ya Allah,
Bawalah kami pada bahtera keselamatanMu
Hiburlah kami dengan kelezatan munajatMu
Basahi kami dengan cucuran cintaMu
Senangkan kami dengan manisnya kasih dan kedekatanMu
Jadikanlah kesungguhan kami di jalanMu
dan urusan kami dalam mentaatiMu
Bersihkan niat kami dengan mengabdiMu
Karena kami hanya karenaMu dan hanya untukMu
Tidak ada jalan bagi kami kepadaMu kecuali melaluiMu.
Ya Allah,
Jadikan kami di antara orang-orang baik yang disucikan
Gabungkan kami dengan orang-orang yang beramal shaleh
yang bersegera melakukan kemuliaan
yang berlari mengerjakan kebaikan
yang berdamba mencapai ketinggian derajat
Engkaulah Yang Maha Layak memberikan ijabah.
Amin ya Rabbal'alamin.
Rumah Cinta,22.45 wib.
Selasa, 10 Mei 2011
Etika Cinta
Sedulurku tercinta, ketika manusia menyerah kepadaNya itulah akan menetes segala bentuk kelebihan manusiawi yang telah ditanamkan di dalam batin, dan semuanya itu dinamakan akhlak. Misalnya, orang menangis melalui mata, dan seiring dengan itu di dalam hatinya terdapat rasa haru. Apabila itu digunakan pada tempatnya, melalui akal anugerah Tuhan, maka ia merupakan suatu akhlak. Begitu pula manusia melawan musuh dengan tangan, dan sejalan dengan gerakan itu di dalam hati timbul suatu kekuatan yang disebut keberanian. Jadi apabila manusia menggunakan kekuatan tersebut sesuai dengan tempat dan keadaan, itupun dinamakan akhlak. Demikian pula kadang-kadang manusia dengan tangannya ingin menyelamatkan orang-orang teraniaya dari orang dzalim. Atau, ia ingin memberikan sesuatu kepada orang miskin dan orang-orang lapar, atau dengan cara lain ingin mengkhidmati umat manusia.
Dan sejalan dengan gerakan itu di dalam hatinya timbul suatu kekuatan yang disebut kasih sayang. Dan kadang-kadang manusia memberi hukuman dengan tangannya kepada orang dzalim, dan bersesuaian dengan itu di dalam hatinya terdapat sesuatu kekuatan yang disebut pembalasan. Kadang-kadang manusia tidak ingin membalas serangan dengan serangan, dan membiarkan saja perbuatan dzalim itu, seiring dengan gerakan tersebut di dalam hatinya terdapat sesuatu kekuatan yang di sebut maaf dan sabar. Dan kadang-kadang manusia ingin membantu sesamanya dengan menggunakan tangan atau kakinya, perasaan dan pikirannya, serta membelanjakan harta bendanya untuk kesejahteraan mereka, maka sejalan dengan gerakan itu terdapat di dalam hatinya suatu kekuatan yang disebut kedermawanana.
Pendeknya, apabila manusia menggunakan semua kekuatan sesuai dengan tempat dan keadaan, maka pada waktu itu kekuatan-kekuatan tersebut dinamakan akhlak atau etika--etika Cinta.
Makanya kalau Dia menyatakan di dalam Al-Qur'anul Karim pada Surah Al Qalam ayat 5: Sesungguhnya engkau [Muhammad] orang yang mempunyai akhlak yang agung, menunjukkan bahwa segala macam akhlak: kedermawanan, keberanian, keadilan, kasih sayang, baik hati, lurus hati, tabah hati, dan sebagainya terhimpun dalam diri engkau Wahai Rasulullah SAW.
Ringkasnya, sekian banyak kekuatan yang terdapat di dalam hati manusia, seperti: sopan, malu, jujur, sayang, harga diri, teguh, pembatasan diri/suci, bersih hati, keseimbangan, setia kawan, baik hati, lurus hati, setia dan sebagainya, apabila semua keadaan thabi'i ini ditampilkan sesuai dengan tempat dan kesempatan, serta mengikuti pertimbangan akal dan pikiran, maka semua akan dinamakan akhlak. Semua akhlak ini pada hakekatnya merupakan keadaan-keadaan thabi'i serta gejolak-gejolak alami manusia, dan mereka baru dapat disebut akhlak apabila digunakan dengan sengaja, sesuai tempat dan keadaan. Dikarenakan pada potensi-potensi alami manusia terdapat suatu potensi sebagai makhluk hidup yang maju, maka dengan menganut agama yang benar, dengan berkumpul bersama orang-orang baik, dan dengan ajaran yang suci, maka gejolak-gejolak alami semacam itu dapat diubahnya menjadi akhlak, dan hal ini tidak dimiliki oleh makhluk bernyawa lainnya.
Inilah upaya untuk tidak sekedar cinta agama, tetapi menampilkan citra agama cinta, dimana tindakan dan ucapan para meluknya menetes pada jiwa-jiwa dengan manis nan menyenangkan, dan alam pun tersenyum menawan....
Jenguklah orang yang sakit,
dan engkau akan sembuh sendiri.
Orang sakit itu mungkin saja seorang guru Sufi,
dan kebaikanmu akan terbayar dalam kebijaksanaan.
Sekalipun orang yang sakit itu adalah musuhmu,
engkau tetap beroleh manfaat,
sebab kebaikanmu mempunyai kekuatan untuk mengubah musuh,
menjadi teman sejati.
Dan bila rasa permusuhan tidak berubah,
rasa dendam tentu akan berkurang,
karena kebaikan adalah balsem termanjur.
[Jalaludin Rumi]
Rumah Cinta,02.44 wib.
Dan sejalan dengan gerakan itu di dalam hatinya timbul suatu kekuatan yang disebut kasih sayang. Dan kadang-kadang manusia memberi hukuman dengan tangannya kepada orang dzalim, dan bersesuaian dengan itu di dalam hatinya terdapat sesuatu kekuatan yang disebut pembalasan. Kadang-kadang manusia tidak ingin membalas serangan dengan serangan, dan membiarkan saja perbuatan dzalim itu, seiring dengan gerakan tersebut di dalam hatinya terdapat sesuatu kekuatan yang di sebut maaf dan sabar. Dan kadang-kadang manusia ingin membantu sesamanya dengan menggunakan tangan atau kakinya, perasaan dan pikirannya, serta membelanjakan harta bendanya untuk kesejahteraan mereka, maka sejalan dengan gerakan itu terdapat di dalam hatinya suatu kekuatan yang disebut kedermawanana.
Pendeknya, apabila manusia menggunakan semua kekuatan sesuai dengan tempat dan keadaan, maka pada waktu itu kekuatan-kekuatan tersebut dinamakan akhlak atau etika--etika Cinta.
Makanya kalau Dia menyatakan di dalam Al-Qur'anul Karim pada Surah Al Qalam ayat 5: Sesungguhnya engkau [Muhammad] orang yang mempunyai akhlak yang agung, menunjukkan bahwa segala macam akhlak: kedermawanan, keberanian, keadilan, kasih sayang, baik hati, lurus hati, tabah hati, dan sebagainya terhimpun dalam diri engkau Wahai Rasulullah SAW.
Ringkasnya, sekian banyak kekuatan yang terdapat di dalam hati manusia, seperti: sopan, malu, jujur, sayang, harga diri, teguh, pembatasan diri/suci, bersih hati, keseimbangan, setia kawan, baik hati, lurus hati, setia dan sebagainya, apabila semua keadaan thabi'i ini ditampilkan sesuai dengan tempat dan kesempatan, serta mengikuti pertimbangan akal dan pikiran, maka semua akan dinamakan akhlak. Semua akhlak ini pada hakekatnya merupakan keadaan-keadaan thabi'i serta gejolak-gejolak alami manusia, dan mereka baru dapat disebut akhlak apabila digunakan dengan sengaja, sesuai tempat dan keadaan. Dikarenakan pada potensi-potensi alami manusia terdapat suatu potensi sebagai makhluk hidup yang maju, maka dengan menganut agama yang benar, dengan berkumpul bersama orang-orang baik, dan dengan ajaran yang suci, maka gejolak-gejolak alami semacam itu dapat diubahnya menjadi akhlak, dan hal ini tidak dimiliki oleh makhluk bernyawa lainnya.
Inilah upaya untuk tidak sekedar cinta agama, tetapi menampilkan citra agama cinta, dimana tindakan dan ucapan para meluknya menetes pada jiwa-jiwa dengan manis nan menyenangkan, dan alam pun tersenyum menawan....
Jenguklah orang yang sakit,
dan engkau akan sembuh sendiri.
Orang sakit itu mungkin saja seorang guru Sufi,
dan kebaikanmu akan terbayar dalam kebijaksanaan.
Sekalipun orang yang sakit itu adalah musuhmu,
engkau tetap beroleh manfaat,
sebab kebaikanmu mempunyai kekuatan untuk mengubah musuh,
menjadi teman sejati.
Dan bila rasa permusuhan tidak berubah,
rasa dendam tentu akan berkurang,
karena kebaikan adalah balsem termanjur.
[Jalaludin Rumi]
Rumah Cinta,02.44 wib.
Etika Cinta
Sedulurku tercinta,melihat keterangan di atas bisa difahami bila pada saat kuatnya dorongan-dorongan thabi'i menjadi sangat berbahaya dan kadang-kadang membinasakan akhlak serta kerohanian,dan karena itu di dalam Kitab Al-Qur'anul Karim dia dinamakan keadaan-keadaan nafs ammarah itu.
Hai,Tuan Licik!
Jangan lakukan amal saleh karena niat egois yang tersembunyi.
Cepat masuklah ke dalam api seperti ngengat.
Jangan timbun kebaikan.
Biarkan cintamu mengalir bebas.
[Jalaludin Rumi]
Jika dipertanyakan, apa pengaruh Al-Qur'an Suci terhadap keadaan-keadaan thabi'i manusia, dan bimbingan apakah yang diberikannya dalam hal itu, serta secara amal, sampai batas manakah yang diperkenankannya?
Hendaknya diketahui bahwa menurut Al-Qur'an Suci keadaan-keadaan thabi'i manusia mempunyai hubungan yang sangat erat sekali dengan keadaan-keadaan akhlaki serta rohaninya. Bahkan, cara manusia makan minum pun mempengaruhi keadaan-keadaan akhlaki dan rohani manusia. Jika keadaan-keadaan thabi'i dipergunakan sesuai dengan bimbingan-bimbingan syari'at, maka sebagaimana benda apa pun yang jatuh ke dalam tambang garam akan berubah menjadi garam juga, seperti itu pula semua keadaan tersebut berubah menjadi nilai-nilai akhlak dan memberi pengaruh yang mendalam sekali pada kerohanian. Oleh karena itu, Al-Qur'an Suci amat memperhatikan kebersihan jasmani, tata-tertib jasmani, dan keseimbangan jasmani dalam berusaha untuk mencapai tujuan segala ibadah, kesucian batin, kekhusyukan, dan kerendahan hati.
Taman kalbu berair dan segar,
dengan bunga melati,mawar,dan pohon cemara.
Kata-kataku membawa aroma mereka.
Ikuti aroma itu ke Taman Firdaus.
[Jalaludin Rumi]
Dengan ini bisa ditarik kandungan makna bahwa tingkah laku jasmani amat besar pengaruhnya pada ruh. Sebagaimana kita saksikan perbuatan-perbuatan alami, walaupun pada lahirnya bersifat jasmani, namun tidak ayal berpengaruh pada keadaan rohani kita. Misalnya, apabila kita mulai menangis, kendatipun hanya pura-pura serta dibuat-buat, air mata menggugah suatu perasaan dalam hati dan hati pun ikut merasa sedih. Demikian pula, apabila kita mulai tertawa secara pura-pura dan dibuat-buat, di dalam hati pun akan timbul rasa gembira. Kita saksikan juga bahwa gerakan sujud secara jasmani pun menimbulkan suatu perasaan khusyuk dan kerendahan hati dalam ruh. Sebaliknya kita saksikan pula bahwa apabila kita berjalan dengan menegakkan kepala seraya membusungkan dada, hal ini segera menimbulkan semacam rasa takabur dan tinggi hati.
Sebagaimana perbuatan dan tingkah laku jasmani berpengaruh pada ruh, begitu pula adakalanya ruh pun berpengaruh pada tubuh. Orang yang mengalami kesedihan, matanya tentu tergenang air mata, sedangkan yang bergembira tentu akan tertawa. Makan, minum, tidur, bangun, bergerak, istirahat, mandi dan lain-lain merupakan perbuatan alami. Segala perbuatan itu pasti mempengaruhi keadaan rohani kita. Struktur jasmani kita sangat erat hubungannya dengan perangai kemanusiaan kita. Penderitaan jasmani juga akan memperlihatkan pemandamngan menakjubkan yang dengan itu terbukti bahwa antara ruh dan tubuh terdapat pertalian sedemikian rupa, di luar kemampuan manusia untuk menyingkap rahasianya.
Perhatian Tuhan menganugerahkan kepada manusia ajaran-ajaran perbaikan terhadap keadaan thabi'i, lalu secara perlahan-lahan menganngkatnya ke atas dan ingin mengantarkan sampai kepada derajat tertinggi keadaan rohani, memiliki beberapa alasan:
Pertama, Dia berkehendak melepaskan manusia dari cara-cara hewani dengan mengajarkan kepadanya: cara duduk, bangun, makan-minum, bercakap-cakap dan segala macam tata-cara hidup bermasyarakat. Dan dengan menganugerahkan perbedaan nyata dari kesamaan terhadap hewan, Dia mengajarkan suatu derajat dasar keadaan akhlaki yang dinamakan adab dan tata krama itu.
Kedua, Dia memberikan keseimbangan pada kebiasaan-kebiasaan alami manusia yang dengan kata lain dapat disebut akhlak razilah [akhlak rendah]. Sehingga dengan mencapai keseimbangan itu, ia dapat masuk ke dalam warna akhlak fadhilah [akhlak tinggi]. Akan tetapi, kedua langkah ini pada hakekatnya sama, sebab bertalian dengan perbaikan keadaan-keadaan thabi'i. Hanya perbedaan tinggi rendah sajalah yang menjadikannya dua macam. Dan Sang Maha Bijaksana telah mengemukakan tatanan akhlak dengan cara demikian sehingga melaluinya manusia dapat maju dari akhlak rendah mencapai akhlak tinggi.
Ketiga, Dia berkehendak manusia tenggelam dalam kecintaan dan keredhaan Sang Maha Penciptanya Yang Hakiki, serta segenap wujudnya menjadi milik Allah. Inilah suatu tingkat yang untuk mengingatkannya, maka agama orang-orang muslim telah diberi nama Islam. Sebab, yang disebut Islam ialah penyerahan diri secara sempurna kepada Tuhan dan tidak menyisihkan sesuatu bagi dirinya sendiri, sebagaimana Dia berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 32: Katakanlah kepada mereka, jika kamu cinta kepada Allah, maka ikutilah aku, dan berjalanlah pada jalanku supaya Allah pun cinta kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Dia adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Kekasih adalah Esa
yang tidak berawal maupun berakhir.
Ketika engkau temukan Dia,
engkau tak akan mengidamkan yang lain.
Di lah Yang Maha Lahir dan Yang Maha Batin.
Air asin dan air tawar selamanya terpisah di dunia ini.
Tinggalkanlah keduanya.jalan teruslah sampai Sumbernya.
[Jalaludin Rumi]
Hai,Tuan Licik!
Jangan lakukan amal saleh karena niat egois yang tersembunyi.
Cepat masuklah ke dalam api seperti ngengat.
Jangan timbun kebaikan.
Biarkan cintamu mengalir bebas.
[Jalaludin Rumi]
Jika dipertanyakan, apa pengaruh Al-Qur'an Suci terhadap keadaan-keadaan thabi'i manusia, dan bimbingan apakah yang diberikannya dalam hal itu, serta secara amal, sampai batas manakah yang diperkenankannya?
Hendaknya diketahui bahwa menurut Al-Qur'an Suci keadaan-keadaan thabi'i manusia mempunyai hubungan yang sangat erat sekali dengan keadaan-keadaan akhlaki serta rohaninya. Bahkan, cara manusia makan minum pun mempengaruhi keadaan-keadaan akhlaki dan rohani manusia. Jika keadaan-keadaan thabi'i dipergunakan sesuai dengan bimbingan-bimbingan syari'at, maka sebagaimana benda apa pun yang jatuh ke dalam tambang garam akan berubah menjadi garam juga, seperti itu pula semua keadaan tersebut berubah menjadi nilai-nilai akhlak dan memberi pengaruh yang mendalam sekali pada kerohanian. Oleh karena itu, Al-Qur'an Suci amat memperhatikan kebersihan jasmani, tata-tertib jasmani, dan keseimbangan jasmani dalam berusaha untuk mencapai tujuan segala ibadah, kesucian batin, kekhusyukan, dan kerendahan hati.
Taman kalbu berair dan segar,
dengan bunga melati,mawar,dan pohon cemara.
Kata-kataku membawa aroma mereka.
Ikuti aroma itu ke Taman Firdaus.
[Jalaludin Rumi]
Dengan ini bisa ditarik kandungan makna bahwa tingkah laku jasmani amat besar pengaruhnya pada ruh. Sebagaimana kita saksikan perbuatan-perbuatan alami, walaupun pada lahirnya bersifat jasmani, namun tidak ayal berpengaruh pada keadaan rohani kita. Misalnya, apabila kita mulai menangis, kendatipun hanya pura-pura serta dibuat-buat, air mata menggugah suatu perasaan dalam hati dan hati pun ikut merasa sedih. Demikian pula, apabila kita mulai tertawa secara pura-pura dan dibuat-buat, di dalam hati pun akan timbul rasa gembira. Kita saksikan juga bahwa gerakan sujud secara jasmani pun menimbulkan suatu perasaan khusyuk dan kerendahan hati dalam ruh. Sebaliknya kita saksikan pula bahwa apabila kita berjalan dengan menegakkan kepala seraya membusungkan dada, hal ini segera menimbulkan semacam rasa takabur dan tinggi hati.
Sebagaimana perbuatan dan tingkah laku jasmani berpengaruh pada ruh, begitu pula adakalanya ruh pun berpengaruh pada tubuh. Orang yang mengalami kesedihan, matanya tentu tergenang air mata, sedangkan yang bergembira tentu akan tertawa. Makan, minum, tidur, bangun, bergerak, istirahat, mandi dan lain-lain merupakan perbuatan alami. Segala perbuatan itu pasti mempengaruhi keadaan rohani kita. Struktur jasmani kita sangat erat hubungannya dengan perangai kemanusiaan kita. Penderitaan jasmani juga akan memperlihatkan pemandamngan menakjubkan yang dengan itu terbukti bahwa antara ruh dan tubuh terdapat pertalian sedemikian rupa, di luar kemampuan manusia untuk menyingkap rahasianya.
Perhatian Tuhan menganugerahkan kepada manusia ajaran-ajaran perbaikan terhadap keadaan thabi'i, lalu secara perlahan-lahan menganngkatnya ke atas dan ingin mengantarkan sampai kepada derajat tertinggi keadaan rohani, memiliki beberapa alasan:
Pertama, Dia berkehendak melepaskan manusia dari cara-cara hewani dengan mengajarkan kepadanya: cara duduk, bangun, makan-minum, bercakap-cakap dan segala macam tata-cara hidup bermasyarakat. Dan dengan menganugerahkan perbedaan nyata dari kesamaan terhadap hewan, Dia mengajarkan suatu derajat dasar keadaan akhlaki yang dinamakan adab dan tata krama itu.
Kedua, Dia memberikan keseimbangan pada kebiasaan-kebiasaan alami manusia yang dengan kata lain dapat disebut akhlak razilah [akhlak rendah]. Sehingga dengan mencapai keseimbangan itu, ia dapat masuk ke dalam warna akhlak fadhilah [akhlak tinggi]. Akan tetapi, kedua langkah ini pada hakekatnya sama, sebab bertalian dengan perbaikan keadaan-keadaan thabi'i. Hanya perbedaan tinggi rendah sajalah yang menjadikannya dua macam. Dan Sang Maha Bijaksana telah mengemukakan tatanan akhlak dengan cara demikian sehingga melaluinya manusia dapat maju dari akhlak rendah mencapai akhlak tinggi.
Ketiga, Dia berkehendak manusia tenggelam dalam kecintaan dan keredhaan Sang Maha Penciptanya Yang Hakiki, serta segenap wujudnya menjadi milik Allah. Inilah suatu tingkat yang untuk mengingatkannya, maka agama orang-orang muslim telah diberi nama Islam. Sebab, yang disebut Islam ialah penyerahan diri secara sempurna kepada Tuhan dan tidak menyisihkan sesuatu bagi dirinya sendiri, sebagaimana Dia berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 32: Katakanlah kepada mereka, jika kamu cinta kepada Allah, maka ikutilah aku, dan berjalanlah pada jalanku supaya Allah pun cinta kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Dia adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Kekasih adalah Esa
yang tidak berawal maupun berakhir.
Ketika engkau temukan Dia,
engkau tak akan mengidamkan yang lain.
Di lah Yang Maha Lahir dan Yang Maha Batin.
Air asin dan air tawar selamanya terpisah di dunia ini.
Tinggalkanlah keduanya.jalan teruslah sampai Sumbernya.
[Jalaludin Rumi]
Etika Cinta
Kesalahan ada pada orang yang menyalahkan.
Ruh melihat tidak perlu ada yang dikritik.
Kawan-kawan menjadi musuh karena kita melihat mereka sebagai terpisah dari kita.
Namun, dalam kenyataannya, kita bertengkar dengan diri kita sendiri.
Meskipun engkau tidak mempunyai kesalahan yang sama dengan orang yang engkau kritisi, mungkin engkau akan membangun kesalahan itu dalam hidupmu kelak.
Pikirkanlah hal itu!
Dunia adalah sebuah gunung dan perbuatan kita adalah teriakan-teriakan
yang bergema kembali kepada kita.
[Jalalaludin Rumi]
Sedulurku tercinta, sudah seyogianya aku permaklumkan bahwa setiap penganut salah satu kitab, yang olehnya dianggap sebagai kitab dari Tuhan, hendaknya menerangkan dan mengedepankan tiap-tiap masalah dengan mengambil keterangan-keterangan dari kitab itu juga dan dalam memelihara lingkup hak pembelaannya ia tidak memperluas jangkauannya demikian jauh, sehingga ia seakan-akan mengarang suatu kitab baru. Upaya ini sebagai ekspresi berbagi cahaya Cinta dengan sesama tanpa batas melalui cara menguraikan keindahan-keindahan keberagamaanku sebagai seorang muslim, yang berdasar pada Kitab Suci Al-Qur'anul Karim, serta akan menyuguhkan kesempurnaan-kesempurnaannya dengan cara menulis segala uraianku sesuai dengan acuan atau penjelasan atau kutipan dari ayat-ayatnya sehingga di tengah puing peradaban sekalipun bisa bersama diciptakan Taman Kebahagiaan di Bumi ini, kalau ingin tahu wujudnya adalah kerukunan dan kebersamaan itu, teriring do'a: semoga Dia berkenan membantuku dalam usaha ini, amin yaa Rabbal'alamin.
Sedulurku tercinta, perlu disadari bahwa manusia itu punya tiga macam keadaan [pembawaan alami, akhlaki dan rohani], bagai tiga mata air yang daripadanya memancar keadaan-keadaan itu secara terpisah.
Seorang manusia adalah sebuah belantara.
Waspadalah bila engkau berasal dari Nafas Ilahi.
Ada ratusan dan ribuan serigala dan babi liar tengah menanti di sana.
Hutan ini penuh dengan setan dan peri.
[Jalaludin Rumi]
Keadaan Pertama: Nafs Ammarah.
Sumber perdana yang merupakan pangkal dan daripadanya timbul semua keadaan pembawaan alami [thabi'i] manusia, yang menurut panduan Cinta [Al-Qur'anul Karim] sebagaimana difirmankanNya dalam Surah Yusuf ayat 54, di mana ciri khas nafs ammarah bahwa ia membawa manusia kepada keburukan yang bertentangan dengan kesempurnaannya serta bertolak belakang dari keadaan akhlaknya dan ia menginginkan manusia supaya berjalan pada jalan yang tidak baik dan buruk itu.
Jadinya, melangkahnya manusia ke arah pelanggaran dan keburukan adalah suatu keadaan yang secara alami menguasai dirinya, sebelum ia mencapai keadaan akhlaki. Sebelum manusia melangkah dengan dinaungi oleh akal dan makrifat [pengetahuan], keadaan ini dinamai keadaan thabi'i [pembawaan alami]. Bahkan seperti halnya hewan-hewan berkaki empat, di dalam kebiasaan mereka makan-minum, bangun tidur, menunjukkan emosi dan naik darah, dan begitu juga kebiasaan-kebiasaan lainnya, manusia ikut kepada dorongan thabi'inya itu. Dan manakala manusia tunduk kepada akal dan makrifat serta memperhatikan timbang rasa, maka saat itu keadaan tersebut tidak lagi dinamakan keadaan-keadaan thabi'i, melainkan saat itu keadaan-keadaan ini disebut keadaan-keadaan akhlaki.
Bergeraklah seperti embrio,
Kembangkan panca indra yang dapat melihat Cahaya.
Matangkan dalam dunia-rahim ini,
dan persiapkan untuk kelahiran keduamu
dari dunia menuju ketakterhinggaan.
[Jalalaludin Rumi]
Keadaan kedua: Nafs Lawwamah.
Inilah keadaan akhlaki, sebagaimana firmanNya dalam Surah Al-Qiyamah ayat 3, di mana Aku [Allah] bersumpah dengan nafs [jiwa] yang menyesali dirinya sendiri atas perbuatan buruk dan setiap pelanggarannya. Nafs lawwamah ini merupakan sumber kedua bagi keadaan-keadaan manusia yang daripadanya timbul keadaan akhlaki, dan sesampainya ke martabat itu manusia terlepas dari keadaan yang menyerupai keadaan hewan-hewan lainnya. Jadi, dengan meningkatnya dari keadaan nafs ammarah kepada keadaan nafs lawwamah, yang merupakan kemajuan, ia layak menerima penghormatan di sisi Allah.
Dinamai lawwamah karena dia mencela manusia atas keburukannya dan tidak senang kalau manusia bertingkah-laku sewenang-wenang dalam memenuhi keinginan-keinginan thabi'inya dan menjalani hidup seperti hewan-hewan berkaki empat. Bahkan ia menghendaki supaya manusia menghayati keadaan-keadaan yang baik serta memiliki budi pekerti luhur, dan dalam usaha memenuhi segala keperluan hidupnya manusia jangan sekalipun melakukan pelanggaran, dan ia menghendaki agar perasaan-perasaan serta hasrat-hasrat thabi'inya diberi penyaluran yang sesuai dengan pertimbangan akal. Jadi, karena dia menyesali tindakan yang buruk, maka ia dinamai nafs lawwamah, yaitu jiwa yang sangat menyesali.
Walaupun nafs lawwamah tidak menyukai dorongan-dorongan thabi'i, bahkan selalu menyesali dirinya sendiri, akan tetapi dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan ia belum dapat menguasai diri sepenuhnya. Kadang-kadang dorongan-dorongan thabi'i mengalahkannya, kemudian ia tergelincir dan jatuh. Bagaikan seorang anak kecil yang masih lemah, walaupun tidak mau jatuh, namun karena lemahnya ia jatuh juga, lalu ia menyesali diri sendiri atas kelemahannya itu. Inilah merupakan keadaan akhlaki bagi jiwa ketika di dalam dirinya telah terhimpun akhlak fadhilah [budi pekerti luhur] dan dia sudah jera dari kedurhakaan, akan tetapi belum lagi dapat menguasai diri sepenuhnya.
Maukah engkau tumbuh?
Maka, isaplah ajaran-ajaran ini seakan-akan payudara Ibumu.
Ikutikah aromanya yang harum menuju Taman Kebahagiaan.
Bersihkan cermin jiwamu hingga memantulkan Cahaya.
Cari tahulah demi kebaikan dirimu.
Gunakan waktumu dengan bijak,
sebelum engkau dihukum sebagai seorang yang bangkrut.
Jangan tunggu esok hari!!!
[Jalaudin Rumi]
Keadaan Ketiga: Nafs Muthmainnah.
Inilah keadaan-keadaan rohani, panduan Cinta menyebut sumber ini nafs muthmainnah, sebagaimana difirmankanNya dalam Surah Al-Fajr ayat 28-31, Hai jiwa yang tenteram dan mendapat ketentraman dari Tuhan! Kembalilah kepada Rabbmu! Kamu senang kepadaNya dan Dia senang kepadamu. Maka bergabunglah dengan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu.
Martabat inilah dimana manusia memperoleh keselamatan dan kebebasan dari segala kelemahan, lalu dipenuhi oleh kekuatan-kekuatan rohaniah dan sedemikian rupa melekat jadi satu dengan Tuhan sehingga ia tidak dapat hidup tanpa Dia. Inilah musim perayaan itu.
Tuhan sedang menantimu untuk melumuri tanganmu dengan maduNya.
Dia telah melakukan permainan petak-umpet,tetapi kini tempat tinggalNya di hatimu.
Bukalah pintu hati!
Engkau mengandung Tuhan,lahirkan anak-cintamu.
Biarkan cinta nan manis membasuhmu hingga bersih dari kepahitan.
Mabuklah dengan pengbdian sampai engkau tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Tanggalkan konsep-konsep yang menyelubungi kesadaran dan kenalilah kesadaran yang sesungguhnya.
Itulah pintu masuk Hadirat Ilahi.
[Jalaludin Rumi]
Dari sinilah manusia akan menciptakan perubahan-perubahan yang gilang gemilang, dan di dunia ini ia akan bisa merasakan suasana surga, ia akan memperoleh pemeliharaan dari Tuhan. Dan kecintaan Tuhan merupakan makanan baginya, dari mata air pemberian kehidupan inilah ia akan mereguknya, dan ia akan terlepas dari keterpenjaraan dunia ini, sebagaimana firmanNya Surah Asy-Syams ayat 10-11, barangsiapa yang membersihkan jiwa dari hasrat-hasrat duniawi, sungguh ia telah selamat dan tidak akan binasa. Akan tetapi barangsiapa yang membenamkan dirinya dalam hasrat-hasrat duniawi, yang merupakan dorongan-dorongan thabi'i, sungguh telah putus asalah ia dari hidup ini.
Cinta menjadikan manis segala yang pahit.
Cinta mengubah tembaga menjadi emas.
Dengan cinta kotoran tenggelam menjadi kebersihan.
Dengan cinta penderitaan berakhir.
Cinta menghidupkan kemali yang mati.
Cinta mengubah raja menjadi hamba.
Cinta adalah perwujudan makrifat.
Bagaimana mungkin seorang yang pandir duduk di atas singgasana seperti itu?
[Jalaludin Rumi]
Ruh melihat tidak perlu ada yang dikritik.
Kawan-kawan menjadi musuh karena kita melihat mereka sebagai terpisah dari kita.
Namun, dalam kenyataannya, kita bertengkar dengan diri kita sendiri.
Meskipun engkau tidak mempunyai kesalahan yang sama dengan orang yang engkau kritisi, mungkin engkau akan membangun kesalahan itu dalam hidupmu kelak.
Pikirkanlah hal itu!
Dunia adalah sebuah gunung dan perbuatan kita adalah teriakan-teriakan
yang bergema kembali kepada kita.
[Jalalaludin Rumi]
Sedulurku tercinta, sudah seyogianya aku permaklumkan bahwa setiap penganut salah satu kitab, yang olehnya dianggap sebagai kitab dari Tuhan, hendaknya menerangkan dan mengedepankan tiap-tiap masalah dengan mengambil keterangan-keterangan dari kitab itu juga dan dalam memelihara lingkup hak pembelaannya ia tidak memperluas jangkauannya demikian jauh, sehingga ia seakan-akan mengarang suatu kitab baru. Upaya ini sebagai ekspresi berbagi cahaya Cinta dengan sesama tanpa batas melalui cara menguraikan keindahan-keindahan keberagamaanku sebagai seorang muslim, yang berdasar pada Kitab Suci Al-Qur'anul Karim, serta akan menyuguhkan kesempurnaan-kesempurnaannya dengan cara menulis segala uraianku sesuai dengan acuan atau penjelasan atau kutipan dari ayat-ayatnya sehingga di tengah puing peradaban sekalipun bisa bersama diciptakan Taman Kebahagiaan di Bumi ini, kalau ingin tahu wujudnya adalah kerukunan dan kebersamaan itu, teriring do'a: semoga Dia berkenan membantuku dalam usaha ini, amin yaa Rabbal'alamin.
Sedulurku tercinta, perlu disadari bahwa manusia itu punya tiga macam keadaan [pembawaan alami, akhlaki dan rohani], bagai tiga mata air yang daripadanya memancar keadaan-keadaan itu secara terpisah.
Seorang manusia adalah sebuah belantara.
Waspadalah bila engkau berasal dari Nafas Ilahi.
Ada ratusan dan ribuan serigala dan babi liar tengah menanti di sana.
Hutan ini penuh dengan setan dan peri.
[Jalaludin Rumi]
Keadaan Pertama: Nafs Ammarah.
Sumber perdana yang merupakan pangkal dan daripadanya timbul semua keadaan pembawaan alami [thabi'i] manusia, yang menurut panduan Cinta [Al-Qur'anul Karim] sebagaimana difirmankanNya dalam Surah Yusuf ayat 54, di mana ciri khas nafs ammarah bahwa ia membawa manusia kepada keburukan yang bertentangan dengan kesempurnaannya serta bertolak belakang dari keadaan akhlaknya dan ia menginginkan manusia supaya berjalan pada jalan yang tidak baik dan buruk itu.
Jadinya, melangkahnya manusia ke arah pelanggaran dan keburukan adalah suatu keadaan yang secara alami menguasai dirinya, sebelum ia mencapai keadaan akhlaki. Sebelum manusia melangkah dengan dinaungi oleh akal dan makrifat [pengetahuan], keadaan ini dinamai keadaan thabi'i [pembawaan alami]. Bahkan seperti halnya hewan-hewan berkaki empat, di dalam kebiasaan mereka makan-minum, bangun tidur, menunjukkan emosi dan naik darah, dan begitu juga kebiasaan-kebiasaan lainnya, manusia ikut kepada dorongan thabi'inya itu. Dan manakala manusia tunduk kepada akal dan makrifat serta memperhatikan timbang rasa, maka saat itu keadaan tersebut tidak lagi dinamakan keadaan-keadaan thabi'i, melainkan saat itu keadaan-keadaan ini disebut keadaan-keadaan akhlaki.
Bergeraklah seperti embrio,
Kembangkan panca indra yang dapat melihat Cahaya.
Matangkan dalam dunia-rahim ini,
dan persiapkan untuk kelahiran keduamu
dari dunia menuju ketakterhinggaan.
[Jalalaludin Rumi]
Keadaan kedua: Nafs Lawwamah.
Inilah keadaan akhlaki, sebagaimana firmanNya dalam Surah Al-Qiyamah ayat 3, di mana Aku [Allah] bersumpah dengan nafs [jiwa] yang menyesali dirinya sendiri atas perbuatan buruk dan setiap pelanggarannya. Nafs lawwamah ini merupakan sumber kedua bagi keadaan-keadaan manusia yang daripadanya timbul keadaan akhlaki, dan sesampainya ke martabat itu manusia terlepas dari keadaan yang menyerupai keadaan hewan-hewan lainnya. Jadi, dengan meningkatnya dari keadaan nafs ammarah kepada keadaan nafs lawwamah, yang merupakan kemajuan, ia layak menerima penghormatan di sisi Allah.
Dinamai lawwamah karena dia mencela manusia atas keburukannya dan tidak senang kalau manusia bertingkah-laku sewenang-wenang dalam memenuhi keinginan-keinginan thabi'inya dan menjalani hidup seperti hewan-hewan berkaki empat. Bahkan ia menghendaki supaya manusia menghayati keadaan-keadaan yang baik serta memiliki budi pekerti luhur, dan dalam usaha memenuhi segala keperluan hidupnya manusia jangan sekalipun melakukan pelanggaran, dan ia menghendaki agar perasaan-perasaan serta hasrat-hasrat thabi'inya diberi penyaluran yang sesuai dengan pertimbangan akal. Jadi, karena dia menyesali tindakan yang buruk, maka ia dinamai nafs lawwamah, yaitu jiwa yang sangat menyesali.
Walaupun nafs lawwamah tidak menyukai dorongan-dorongan thabi'i, bahkan selalu menyesali dirinya sendiri, akan tetapi dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan ia belum dapat menguasai diri sepenuhnya. Kadang-kadang dorongan-dorongan thabi'i mengalahkannya, kemudian ia tergelincir dan jatuh. Bagaikan seorang anak kecil yang masih lemah, walaupun tidak mau jatuh, namun karena lemahnya ia jatuh juga, lalu ia menyesali diri sendiri atas kelemahannya itu. Inilah merupakan keadaan akhlaki bagi jiwa ketika di dalam dirinya telah terhimpun akhlak fadhilah [budi pekerti luhur] dan dia sudah jera dari kedurhakaan, akan tetapi belum lagi dapat menguasai diri sepenuhnya.
Maukah engkau tumbuh?
Maka, isaplah ajaran-ajaran ini seakan-akan payudara Ibumu.
Ikutikah aromanya yang harum menuju Taman Kebahagiaan.
Bersihkan cermin jiwamu hingga memantulkan Cahaya.
Cari tahulah demi kebaikan dirimu.
Gunakan waktumu dengan bijak,
sebelum engkau dihukum sebagai seorang yang bangkrut.
Jangan tunggu esok hari!!!
[Jalaudin Rumi]
Keadaan Ketiga: Nafs Muthmainnah.
Inilah keadaan-keadaan rohani, panduan Cinta menyebut sumber ini nafs muthmainnah, sebagaimana difirmankanNya dalam Surah Al-Fajr ayat 28-31, Hai jiwa yang tenteram dan mendapat ketentraman dari Tuhan! Kembalilah kepada Rabbmu! Kamu senang kepadaNya dan Dia senang kepadamu. Maka bergabunglah dengan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu.
Martabat inilah dimana manusia memperoleh keselamatan dan kebebasan dari segala kelemahan, lalu dipenuhi oleh kekuatan-kekuatan rohaniah dan sedemikian rupa melekat jadi satu dengan Tuhan sehingga ia tidak dapat hidup tanpa Dia. Inilah musim perayaan itu.
Tuhan sedang menantimu untuk melumuri tanganmu dengan maduNya.
Dia telah melakukan permainan petak-umpet,tetapi kini tempat tinggalNya di hatimu.
Bukalah pintu hati!
Engkau mengandung Tuhan,lahirkan anak-cintamu.
Biarkan cinta nan manis membasuhmu hingga bersih dari kepahitan.
Mabuklah dengan pengbdian sampai engkau tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Tanggalkan konsep-konsep yang menyelubungi kesadaran dan kenalilah kesadaran yang sesungguhnya.
Itulah pintu masuk Hadirat Ilahi.
[Jalaludin Rumi]
Dari sinilah manusia akan menciptakan perubahan-perubahan yang gilang gemilang, dan di dunia ini ia akan bisa merasakan suasana surga, ia akan memperoleh pemeliharaan dari Tuhan. Dan kecintaan Tuhan merupakan makanan baginya, dari mata air pemberian kehidupan inilah ia akan mereguknya, dan ia akan terlepas dari keterpenjaraan dunia ini, sebagaimana firmanNya Surah Asy-Syams ayat 10-11, barangsiapa yang membersihkan jiwa dari hasrat-hasrat duniawi, sungguh ia telah selamat dan tidak akan binasa. Akan tetapi barangsiapa yang membenamkan dirinya dalam hasrat-hasrat duniawi, yang merupakan dorongan-dorongan thabi'i, sungguh telah putus asalah ia dari hidup ini.
Cinta menjadikan manis segala yang pahit.
Cinta mengubah tembaga menjadi emas.
Dengan cinta kotoran tenggelam menjadi kebersihan.
Dengan cinta penderitaan berakhir.
Cinta menghidupkan kemali yang mati.
Cinta mengubah raja menjadi hamba.
Cinta adalah perwujudan makrifat.
Bagaimana mungkin seorang yang pandir duduk di atas singgasana seperti itu?
[Jalaludin Rumi]
Dunia Cinta
Sedulurku tercinta, pagi ini aku melihat berita adanya sampah yang menggunung setelah perayaan tahun baru, dan tentu barang-barang itu tadinya merupakan sesuatu yang sangat mempesona jiwa-jiwa, setelah merasakan isinya dibuanglah kulit atau wadahnya. Dalam sebuah taman kota tentu sudah tersedia bak sampah, namun karena kuantitas sampah yang sedemikian banyaknya maka orang membuangnya begitu saja, di mana mereka mau.
Aku lihat plastik-plastik pembungkus makanan,terompet-terompet yang hancur, bungkus mercon, sisa-sia makanan, bahkan ada kaos-kaos yang lusuh disapu bersih oleh petugas pembersih kota. Dengan adanya sampah ini terbayang olehku sebelumnya, dibalik bungkus-bungkus itu ada makanan yang mereka rasakan, dibalik terompet-terompet itu ada suara-suara menggesa menembus asa, dibalik sisa-sia makanan itu ada yang tak tertampung di perutnya, dibalik kaos-kaos lusuh itu ada pesona temporal yang membalutnya, dibalik semua yang terbuang itu ada kegembiraan yang dibawa pulang ke rumahnya, setelah lelah, setelah lunglai, setelah payah, setelah, setelah, setelah, setelah.
Bekas dari kegembiraan sesaat ini ternyata punya matarantai, dimana kelelahan ini dibaringkan, dimana melilitnya perut karena kekenyangan itu pada ujungnya akan dibuang, dimana semua kehendak nafsunya itu akan di letakkan. Ternyata ujung dari kegembiraan sesat ini tergiring pada pembaringan di tempat tidur, ternyata kekenyangan atas kehendak-kehendak itu berujung pada pencarian toilet-toilet, bahasa kasarnya kakus, bahasa "keren"nya WC itu. Pada saat yang sama aku melihat peristiwa ini, terbayang olehku saat itu Kanjeng Nabi SAW berdiri di dekat tempat sampah, lalu beliau bersabda: Mari kita lihat dunia! Kemudian beliau mengambil pakaian usang dan rusak di tempat sampah itu, berikut beberapa tulang yang hancur. Beliau bersabda: Inilah dunia, sebagai lambang bahwa perhiasan dunia akan rusak seperti pakaian ini, dan tubuh-tubuh yang engkau lihat akan hancur seperti tulang-tulang ini, sesungguhnya dunia adalah sesuatu yang manis dan hijau, dan Allah menciptakan kamu sebagai penguasanya, dan Dia selalu memicing bagaimana kamu memperlakukan dunia, sesungguhnya bangsa Bani Israil telah diberhasilkan urusan dunianya, dan mereka berhamburan gemerlap perhiasan, wanita, wangi-wangian dan pakaian.
Aku yakin, tukang pembersih sampah-sampah itu terpercik cahaya di hatinya sebagaimana sabda Kanjeng Nabi itu, mereka tidak merasakan pesona pestanya tetapi menetes dihatinya pesona cahaya yang menjadikan mereka tidak sekedar tukang sapu dan pembersih kota, tetapi pembersih kotoran yang berujung pada kesimpulan bahwa dunia bagai sampah itu, merekalah pembersihnya. Tukang sapu kalau demikian bisa dibaca bukan sekedar cinta dunia, tetapi menanjak merasakan dunia cinta yang sangat mendalam, semoga.
Kanjeng Nabi SAW juga mengisahkan ketika Nabi Adam as makan buah khuldi bersama Ibu Hawa, maka perutnya melilit-lilit ingin memuntahkan kotoran, dan tidak dijadikan makanan sesuatupun kecuali buah ini, maka dari itu keduanya dilarang untuk memakannya, maka Nabi Adam as kemudian bergerak mengitari surga, dan Allah mengutus malaikat untuk menanyainya. Dia berfirman: Katakan apa yang dia kehendaki? Nabi Adam as pun menjawab: Aku ingin membuang kotoran yang menusuk dalam perutku. Difirmankan kepada malaikat: Katakan padanya, dimana kamu ingin membuangnya? Di atas tempat tidurkah, tahta, sungai-sungai atau dibawah pepohonan? Apakan ada tempat di sini yang pantas untuk itu? Maka turun sajalah ke dunia....
Kawan-kawan, kini kita anak cucu Nabi Adam as berada di dunia, maka kisah di atas mengajarkan akan kesadaran bahwa dalam ranah Cinta kita tidak perlu putus asa, karena Cinta bisa mensucikan segala yang najis, maknanya mari yang material kita rokhaniahkan, yang benda kita transedenkan, yang duniawi kita ukhrawikan sesuai dengan panduan Cinta yang diamanatkan kepada kekasih-kekasihnya itu, pada kesimpulan yang baku Kanjeng Nabi saw menyatakan: Dunia adalah ladang Akhirat itu....
Alangkah indahnya--dalam pandanganku, tukang-tukang sapu itu, jazakumullah....
Aku lihat plastik-plastik pembungkus makanan,terompet-terompet yang hancur, bungkus mercon, sisa-sia makanan, bahkan ada kaos-kaos yang lusuh disapu bersih oleh petugas pembersih kota. Dengan adanya sampah ini terbayang olehku sebelumnya, dibalik bungkus-bungkus itu ada makanan yang mereka rasakan, dibalik terompet-terompet itu ada suara-suara menggesa menembus asa, dibalik sisa-sia makanan itu ada yang tak tertampung di perutnya, dibalik kaos-kaos lusuh itu ada pesona temporal yang membalutnya, dibalik semua yang terbuang itu ada kegembiraan yang dibawa pulang ke rumahnya, setelah lelah, setelah lunglai, setelah payah, setelah, setelah, setelah, setelah.
Bekas dari kegembiraan sesaat ini ternyata punya matarantai, dimana kelelahan ini dibaringkan, dimana melilitnya perut karena kekenyangan itu pada ujungnya akan dibuang, dimana semua kehendak nafsunya itu akan di letakkan. Ternyata ujung dari kegembiraan sesat ini tergiring pada pembaringan di tempat tidur, ternyata kekenyangan atas kehendak-kehendak itu berujung pada pencarian toilet-toilet, bahasa kasarnya kakus, bahasa "keren"nya WC itu. Pada saat yang sama aku melihat peristiwa ini, terbayang olehku saat itu Kanjeng Nabi SAW berdiri di dekat tempat sampah, lalu beliau bersabda: Mari kita lihat dunia! Kemudian beliau mengambil pakaian usang dan rusak di tempat sampah itu, berikut beberapa tulang yang hancur. Beliau bersabda: Inilah dunia, sebagai lambang bahwa perhiasan dunia akan rusak seperti pakaian ini, dan tubuh-tubuh yang engkau lihat akan hancur seperti tulang-tulang ini, sesungguhnya dunia adalah sesuatu yang manis dan hijau, dan Allah menciptakan kamu sebagai penguasanya, dan Dia selalu memicing bagaimana kamu memperlakukan dunia, sesungguhnya bangsa Bani Israil telah diberhasilkan urusan dunianya, dan mereka berhamburan gemerlap perhiasan, wanita, wangi-wangian dan pakaian.
Aku yakin, tukang pembersih sampah-sampah itu terpercik cahaya di hatinya sebagaimana sabda Kanjeng Nabi itu, mereka tidak merasakan pesona pestanya tetapi menetes dihatinya pesona cahaya yang menjadikan mereka tidak sekedar tukang sapu dan pembersih kota, tetapi pembersih kotoran yang berujung pada kesimpulan bahwa dunia bagai sampah itu, merekalah pembersihnya. Tukang sapu kalau demikian bisa dibaca bukan sekedar cinta dunia, tetapi menanjak merasakan dunia cinta yang sangat mendalam, semoga.
Kanjeng Nabi SAW juga mengisahkan ketika Nabi Adam as makan buah khuldi bersama Ibu Hawa, maka perutnya melilit-lilit ingin memuntahkan kotoran, dan tidak dijadikan makanan sesuatupun kecuali buah ini, maka dari itu keduanya dilarang untuk memakannya, maka Nabi Adam as kemudian bergerak mengitari surga, dan Allah mengutus malaikat untuk menanyainya. Dia berfirman: Katakan apa yang dia kehendaki? Nabi Adam as pun menjawab: Aku ingin membuang kotoran yang menusuk dalam perutku. Difirmankan kepada malaikat: Katakan padanya, dimana kamu ingin membuangnya? Di atas tempat tidurkah, tahta, sungai-sungai atau dibawah pepohonan? Apakan ada tempat di sini yang pantas untuk itu? Maka turun sajalah ke dunia....
Kawan-kawan, kini kita anak cucu Nabi Adam as berada di dunia, maka kisah di atas mengajarkan akan kesadaran bahwa dalam ranah Cinta kita tidak perlu putus asa, karena Cinta bisa mensucikan segala yang najis, maknanya mari yang material kita rokhaniahkan, yang benda kita transedenkan, yang duniawi kita ukhrawikan sesuai dengan panduan Cinta yang diamanatkan kepada kekasih-kekasihnya itu, pada kesimpulan yang baku Kanjeng Nabi saw menyatakan: Dunia adalah ladang Akhirat itu....
Alangkah indahnya--dalam pandanganku, tukang-tukang sapu itu, jazakumullah....
Langganan:
Postingan (Atom)