Sabtu, 03 Juli 2010

Susu Cinta

Sedulurku tercinta, ada sebuah syair yang maknanya: wahai anak cucu Adam ingatlah ketika engkau dilahirkan dalam keadaan menangis sementara lingkunganmu tertawa, maka beramallah untuk dirimu, pada saat dimana orang datang dengan menangis di hari kematianmu, jiwamu tersenyum. Sepertinya kehidupan ini kalau begitu, diawali tangis dan ditutup dengan tangis. Sungguh--firman Tuhan--Aku ciptakan manusia itu serba ketemu ruwet. Ruwet jalan macet, ruwet anak-anak nakal, ruwet istri cerewet, ruwet suami silengkuh, ruwet kendaraan mogok, ruwet tubuh didera sakit, ruwet jadi pengangguran, ruwet barang-barang naik, ruwet telambat kereta, ruwet pesawat ditangguhkan, ruwet menagih hutang, ruwet membayar hutang, ruwet hukum tidak adil, ruwet pejabat korupsi, ruwet perbedaan faham, ruwet perpecahan parpol, ruwet, ruwet, ruwet, ruwet, ruwet.

Keruwetan ini bisa dilacak, sumbernya adalah keinginan-keinginan kita, keinginan telah memperbudak manusia. Derita yang menyeret manusia tidak pernah sempat menyapa jiwanya--sangat sibuk katanya. Manusia menjadi terkapar dalam kebosanan, lunglai dalam menuruti dan mengatasi keinginannya itu.

Manusia memiliki dua ujung--kata Kanjeng Nabi saw, ujung lidah dan ujung bawah. Ujung yang pertama membawa petualangan makan sehingga perutnya menjadi bak sampah, sementara ujung kedua membawa petualangan selera seksualitas, keinginan mengicipi semua perempuan dunia. Iblis pun melambai-lambai bisikannya pada dua tempat--maaf bukan salah perempuan lho, pertama payudara dan kedua pantatnya.

Jadilah, mata lelaki kalau berpapasan dengan perempuan, yang dipelototi adalah payudaranya, sementara kalau perempuan itu sudah lewat yang dikomentari adalah bokongnya. Mengambil jarak dengan derita ini semua, sudah sangat susah, sangat susah. Akhirnya manusia menjadi lunglai, terhempas di kerak bumi ini. Dalam ketakberdayaan seperti inilah, Tuhan mengutus para kekasihNya, sebagai hidayah bagi manusia menuju kebahagiaan sejati, abadi.

Sebenarnya juga merupakan derita, tetapi derita yang terasa manis, derita yang melahirkan kebahagiaan. Wujudnya adalah derita berpisah dengan keinginan itu, lalu biar Tuhan yang bicara melalui kita semua, itu namanya pasrah, bahasa arabnya Islam.

Hai orang yang beriman--firman Tuhan, masuklah ke dalam kepasrahan. Cul! Lihatlah kepasrahan orang bekerja, tetapi demi senyum anak istrinya, akhirnya menyeret kalbunya pada senyum Tuhan. Saksikanlah kepasrahan Ibumu, demi kehidupanmu, derita serasa manis kala melihat senyummu, Ibumu lebih merasa dalam pelukan Tuhan, kala memelukmu sebagai titipanNya. Tengoklah kepasrahan awan yang menangis, tetapi menumbuhkan bumi menjadi taman-taman. Ingatlah kepasrahanmu ketika engkau menangis kala masih bayi, air susu Ibumu mengalir deras membesarkanmu. Bayi bisa menjadi simbol kepasrahan, semua kehendak dalam ketakberdayaannya itu, membawa semua lingkungannya tergerak untuk melayaninya. Popok basah, dia menangis, mengundang Ibunya mengganti. Punggung panas karena tidur melulu, dia menangis lalu neneknya tergerak mengajak jalan-jalan, padahal bayi itu tidak bisa berjalan....

Kawan-kawan, bayi saja memiliki insting sedemikian tajam: aku menangis supaya ada perawat yang baik datang. Maka tidakkah kita memiliki kesadaran menangis--dengan belbagai bentuk derita--sehingga Sang Maha Perawat dari segala perawat memberikan susu secara gratis dalam kehidupan, derita semacam inilah yang tidak melahirkan kebosanan, tetapi justru jiwanya berkembang sebab keberkahan susu cinta itu....

Tangis Cinta

Sedulurku tercinta, maafkanlah aku bila sering mengisahkan sesuatu, sepertinya mengajakmu menangis, bagi orang yang sulit menangis aku pandang: alangkah kuat hatimu, dibalik itu aku selalu merasakan kelembutan hatimu. Kanjeng Nabi saw menyatakan bahwa siapa yang menangis tetapi tidak keluar air matanya, baginya surga. Aku belum pernah melihat Cak Nun menangis, tetapi dengarkanlah suaranya itu, tutur katanya itu, shalawatannya itu, bagiku beliau menangis dalam bentuk yang lain--tidak keluar air mata.

Aku ini orang yang sangat lemah, membaca tulisanmu di facebook, aku menangis karena di balik dunia maya, aku membayangkan sangat terang di cermin hatiku: dirimu sehat, keluargamu aman, senyummu mengembang. Aku sangat-sangat bahagia, lalu aku menjawabmu walau kau tidak melihatku, mengetik tulisan sambil meleleh air mataku. Aku bahagia, atas kesehatanmu kawan, ya aku bahagia, bahagia sekali.

Aku tidak tahu, kalau berusaha menangis itu dianjurkan Kanjeng Nabi saw bisa melembutkan hati, aku tidak tahu kalau Allah menyatakan bahwa orang-orang soleh itu bila dibacakan ayat-yatNya, mereka rebah bersujud dan menangis. Aku tidak tahu kalau Abu Dzarr dan para sahabatnya bilang bahwa jika orang mampu menangis, menangislah, jika tidak rasakanlah dalam hati akan kesedihan, berusahalah untuk menangis, karena hati yang keras jauh dari Allah.

Aku tidak tahu kalau orang-orang shaleh itu disebut Allah bahwa mereka melihat pesona tanda-tandaNya,mereka merebahkan diri atas muka mereka sambil menangis dan bertambahlah kekhusyuan mereka. Aku tidak peduli kalau orang bilang aku ini cengeng dan gampang tidak berdaya, lalu membid'ahkanku. Aku rela. Aku juga tidak peduli kalau ada orang yang memuji, bahwa aku menangis itu tanda dari kelembutan hati. Kalau aku dipandang riya', aku pun juga rela, karena aku secara jujur belum mencapai kekhusyuan itu, aku masih riya', ya aku masih riya', maafkanlah aku kawan.

Sekuat Kanjeng Nabi saw, ketika mendengar ayat-ayat dibacakan, beliau menangis sesengguan, apalagi selemah aku ini kawan, aku bisa berteriak, menjerit dan bergetar hatiku. Makanya ketika aku mendengar orang membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an, aku menangis: hatiku ada suara, bukankah ayat-ayat ini pernah diucapkan oleh kekasih Allah, kini terdengar di telingamu, lalu Kanjeng Nabi saw serasa ada depan mataku, aku menangis tetapi menangis bahagia.

Ketika aku menimang bayi anak-anakku ada suara di hatiku: semua bersumber dari cahaya Muhammad, bukankah Muhammad telah hadir di rumahmu, lalu aku seperti disuruh menyambutnya: ya Nabi salam 'alaika, ya rasul salam 'alaika, aku menangis, kata-kataku hilang, diganti air mata. Ketika aku berdampingan dengan istri saat temantenan, ada suara yang sama di hatiku: bukankah engkau sedang berdampingan dengan Nabi itu dalam wujud istri, yang bersumber dari cahaya Muhammad itu, aku menangis dengan tingkat kesyukuran tiada tara. Apalagi kalau aku melihat tragedi kemanusiaan, aku menangis.

Andai aku mendengar khabar dirimu sakit kawan, aku menangis dengan harapan penuh: Ya Allah sembuhkanlah kawanku itu, sembuhkanlah, sembuhkanlah, ya Robb. Aku menghindari gelak tawa di televisi, kita menyewa orang untuk bisa tertawa. Apakah kualitas ruhani kita muncul, harus dihadirkan tragedi-tragedi itu: jangan Ya Allah--bisik dalam hatiku, aku yakin mereka semua tidak kuat, tidak kuat. Maka Nabi saw menangis ketika melihat tangannya pemecah batu itu, melepuh demi mata pencahariannya, halal, lalu Kanjeng Nabi saw mencium tangan yang melepuh itu....

Kawan-kawan, anggaplah aku cengeng saja ya, aku menangis biar peka terhadap penderitaan orang-orang kecil, aku menangis dalam shalat-sholatku--bukan karena khusyuk--betapa kekhusyu'an ini sulit bagiku ya Allah, malah dalam pengajian maiyahan pagi di rumah, aku tidak pidato apa-apa, aku nasehati masyarakat sekitarku dengan air mataku. Jangankan sejauh itu kawan, engkau menyapaku saja walau lewat dunia maya ini, aku menangis, hatiku menjerit menyongsongmu: aku punya saudara kamu, aku punya saudara kamu, aku punya saudara kamu, aku punya saudara kamu, aku punya saudara kamu....

Aku bahagia!!!!

MasyaAllah Cinta

Sedulurku tercinta, ketika aku beserta istri mengantarkan anak-anak mau sekolah dan modok di Pesantren Kudus, mampir ke sebuah toko untuk belanja belbagai kebutuhan selama di Pesantren. Sambil menunggu belanja, aku ngobrol sama tukan sol sepatu sandal di emperan toko itu. Selama itu, aku merasa asyik dengan dia karena tukang sol sandal dan sepatu itu senang kisah-kisah yang menakjubkan dalam ranah adab dan sopan santun.

Begitu aku gantian berkisah, dia letakkan palu dan tali-tali lembut warna kecoklatan dan jarum penusuk sandal dan sepatu. Sorot matanya tajam menatapku: tatapan mata rindu Kanjeng Nabi. Kala Kanjeng Nabi sedang berkhotbah di suatu tempat--aku mulai berkisah--beliau melihat sebatang pelepah korma yang sudah rapuh tergeletak. Seketika itu kanjeng Nabi menghentikan pidatonya dan menyambangi itu pelapah korma yang sudah rapuh. Kanjeng Nabi meneteskan airmata sambil mengelus-elus itu pelepah. Ditanya sahabat: kenapa engkau menangisi pelepah rapuh ini wahai Rasulullah? Iya--Kanjeng Nabi menjawab--pelepah korma ini pernah menemani hari-hari sulitku, untuk aku jadikan tongkat kala berkhutbah.

Aku lihat reaksi tukang sol itu, sambil geleng-geleng kepala karena ketakjuban atas penghargaan jasa batang pelepah korma, dengan getar bibirnya: masyaaAllah! Kenapa--aku tanya--kok menggesa masyaaAllah? Aku--katanya--terkenang jasa orang-orang yang telah berbuat baik kepadaku.
Kala Kanjeng Nabi menggendong bayi dari seorang Ibu--kisahku berlanjut--tiba-tiba bayi itu pipis. Ibu itu langsung merebut bayinya dari timangan beliau, karena malu anaknya mipisi pakaian Kanjeng Nabi. Beliau lalu mengingatkan kepada Ibu itu: Ibu, aku tahu hatimu, kalau soal pakaianku dipipisi anakmu, ini kan bisa dicuci, tetapi kasarmu mengambil anak ini dari timanganku, itu yang tidak bisa diganti.

Lagi-lagi tukang sol itu menggesa dengan lebih keras: masyaaAllah! Kenapa Pak--aku desak lagi dia. Jawabnya: aku terkenang kekasaranku pernah memukul anakku, ternyata pukulan itu dikenang sampai dia dewasa kini, aku sangat menyesali diri, aku malu kepada Kanjeng Nabi itu, andai beliau melihatku.
Kala Kanjeng Nabi melintasi sebuah gurun padang pasir nan terik--kisahku lagi--Beliau melihat tukang pemecah batu, maka berhentilah beliau lalu mendekati itu orang pemecah batu yang tubuhnya terpanggang panasnya matahari di gurun sahara. Beliau tahu, pekerja kasar seperti dia itu, demi memberi makan anak-anaknya secara halal dan barokah, bekerja seperti itu dalam rangka menghindari suara-suara nafsu: mencuri, merampok, nyopet dan lain sebagainya. Sehingga pernah keluar dari bibir suci beliau, kalau orang yang bekerja keras dan kasar itu bisa menjadi tebusan dosa-dosanya.
Aku lihat mata tukang sol sepatu itu meneteskan airmata, ia seka dengan tangan kanannya, keluar tambah deras itu airmata. Lalu Kanjeng Nabi--setelah uluk salam kepada tukang pemecah batu--kemudian mencium tanganya seraya dawuh: sebab tanganmu bekerja ini, engkau tidak akan tersentuh api neraka....

Kawan-kawan, tukang sol itu menjerit: masyaaAllah!!! Aku tidak sempat lagi bertanya kepada dia kenapa, karena dia menangis sesengguan, aku pun menangis bahagia melihat hati orang itu, hati yang dilanda rindu kepada orang yang paling cinta kepada Allah itu. Kisah itu mungkin mengandaikan dirinya, asal tidak mencuri, merampok, demi kehalalan untuk menyuapi anak-anak-istrinya, biarlah jadi tukang sol sepatu dan sandal, dia ridho.

Aku pamit dengan linangan airmata, dengan merasa bahwa hatiku kalah rindu dengan hati tukang sol sandal dan sepatu itu. Istriku bertanya, kenapa menangis Mas? Aku jawab: tidak apa-apa Dik, tidak apa-apa, tetapi airmataku tak bisa menipunya....

Khalwat Cinta

Sedulurku tercinta, munafik itu sifat yang lahir berbeda dengan yang di batin, Gibran bilang: bagusnya pakaianmu tidak bisa menutupi busuknya prilakumu. Rumi dengan nada yang sama menyatakan: nampak dipermukaan air itu tenang tetapi di kedalamannya bertumpuk bangkai-bangkai hewan.

Lihatlah kisah ini kawan: Di sebuah Pesantren Jawa Timur, ada seorang Ibu Nyai yang selalu menjawab pertanyaan setiap orang--termasuk santri muqim dan alumni--manakala sowan ke Kiainya: beliau baru khalwat di kamar, manakala ingin bersalaman, ulurkan tangan lewat lubang itu, beliau nanti menyalaminya. Memang Kiai ini guru sebuah Thariqah, sehingga khalwat adalah bagian dari riyadhah yang mengasyikkan. Biasanya durasi waktunya, 3 hari dalam sebulan, 40 hari dalam setahun, tetapi ini aneh khalwat sudah mencapai 5 tahun.

Memang Kiai ini selama berkeluarga belum dikaruniai anak, umurnya sudah separo abad, tetapi karena kepasrahan hatinya semua hal tidak menjadi masalah, termasuk belum punya anak itu. Semua tamu sedemikian percaya penuh, dengan bukti setiap mereka mengulurkan tangannnya, dari dalam lubang itu ada yang menyalaminya. Adapun Ibu Nyai ini umurnya separuh dari Kiai, setia mengatur semua kegiatan di pesantren ini. Mulai dari pembangunan pesantren, jadwal pengajian rutinan harian, peringatan hari besar Islam, haflah akhirussanah, menghadiri undangan masyarakat yang hajatan--selama suaminya khalwat itu.

Sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan pesantren, ada beberapa santri khidmah dalem (melayani kegiatan di rumah Kiainya), semua sedemikian percaya penuh tidak ada yang syu'dhan apa-apa. Termasuk salah satu santri laki-laki dewasa yang selalu menemani Ibu Nyai, kemana pun beliau pergi.

Cinta nafsu bermula dari kebiasaan (tresno jalaran soko kulino). Ibu Nyai ini, yang dimuliakan dari sudut apa saja oleh Kiai--ya suaminya itu--menuruti bisikan tercela dalam bentuk bersilengkuh dengan santri yang rutin mengantarkan kemana ia pergi. Skenario dirancang oleh Ibu Nyai bersama santri dalem itu: Kiai thariqoh itu dibunuh berdua, dengan cara dijerat lehernya dengan tali tambang plastik, seterusnya digali kuburannya dalam kamar itu juga. Sedangkan untuk mengatasi jabat tangan melewati lubang sediameter lengan orang, diatasi santri selingkuhannya itu. Semua nampak beres, tetapi selama lima tahun itu bukan waktu yang pendek.

Ada seorang santri yang shaleh, dalam tidurnya ia bermimpi Kiainya meninggal, malah dialah yang ikut memanggul kerandanya itu. Hal ini disampaikan kepada Ibu Nyai, malah memperoleh dampratan sampai menyumpah serapahi santri shaleh itu. Lagi-lagi santri bermimpi untuk yang ke dua kalinya. Kali ini bukan bicara lagi sama Ibu Nyai, tetapi seluruh santri yang puluhan itu mendobrak kamar yang disebut untuk khalwat, mereka menemukan kerangka Kiainya setelah membongkar kuburnya, di kamar khalwat itu. Kali ini Ibu Nyai dan santri dalem itu gantian yang mondok: di penjara puluhan tahun....

Kawan-kawan, sekelas Ibu Nyai syari'at tentu paham termasuk santrinya itu, tetapi pemahaman ilmu tanpa kehadiran Tuhan di hatinya, justru menjadi selubung cahaya. Gelapnya hati menjadikan seluruh komponen tubuh rusak, penampilan lahiriyah tidak menjamin prilakunya yang bersumber di hati sangat bahimiyah (kehewanan). Akalnya jelas berjalan, tetapi hatinya mati, hatinya mati, hatinya mati, hatinya mati, hatinya mati....di Pesantren yang diberkahi itu, benar adanya Kiai itu khalwat dengan kekasihnya, abadi. Ibu Nyai dan santri itu bagai ayam mati di lumbungnya....

Jumat, 02 Juli 2010

Mimpi Cinta

Sedulurku tercinta, ada seorng adik mencari kakaknya--keduanya perempuan--selama lima tahun. Pencarian ini bermula ketika setiap lebaran, adik itu menanyakan kepada kakak iparnya: dimana mbakyu itu? Selalu, suaminya ini menjawab bahwa dia pergi tanpa pamit, dia juga mencari--kata suami kakaknya itu. Kejadian ini di Kota Semarang. Ikhtiar adik itu sedemikian melas (kasihan), sampai menunda untuk menikah, meninggalkan kerja, lupa dirinya.

Kota demi kota, orang pintar semua disambanginya, lewat pengumuman media masa, pamplet-pamplet dipasang dengan tulisan tangannya. Aneh, suami kakaknya itu kok santai saja, tidak kemana-mana, tetapi setiap lebaran sowan ke mertuanya juga. Cuma kalau dia ditanya soal istrinya, selalu menjawab minggat (pergi nggak pamit), tanpa beban. Setiap menjelang tidur, adik itu selalu membacakan atau menghadiahi Fatihah untuk kakaknya--selalu itu--dengan harapan kakak perempuannya itu bisa ketemu, kalau dia mati bisa ditemukan kuburnya.

Ketika dia menginap di rumah kakak iparnya itu, ada kejadian aneh dalam tidurnya, dia bermimpi ketemu kakaknya, kakak itu bilang : Dik, engkau jangan mencari aku, berhentilah dari usahamu itu, aku kasihan sama kamu Dik, aku tidak kemana-mana kok, aku tetap di rumah ini, tempatku berada tepat di bawah meja makan itu.

Adik itu begitu bangun menahan nafas, menguatkan emosi, tetapi airmatanya meleleh, kangen sama mbakyunya terbayar walau dalam mimpi. Dua hari dia di situ mengalami mimpi yang sama, dengan kalimat yang sama. Setelah itu dia memberanikan diri bilang sama kakak iparnya atas kejadian dalam mimpi dua malam berturut-turut, bagai Nabi Ibrahim ditagih Tuhan soal mengorbankan anaknya itu. Kakak itu malah menjawab bahwa mimpi itu bunganya tidur, malah ujungnya mengancam, kalau sampai membuktikan mimpi ini lalu membongkar lantai rumah ini, akan dilaporkan ke polisi.

Derita yang panjang dalam pencarian, kerinduan cinta yang panjang atas tali persaudaraan dan kekeluargaan--tali cinta--menjadikan jawaban kakak iparnya itu sebuah tantangan tanpa ketakutan.

Esok harinya, dia tidak pulang ke rumah kampung, tetapi justru mengajak polisi mendatangi rumah kakaknya itu--dengan resiko--kalau tidak benar maka dia akan ditahan sebagaimana ancaman kakak iparnya itu. Betapa kaget kakak iparnya itu, karena kedatangannya kembali ke rumahnya membawa beberapa polisi, adik itu sambil membawa pacul dan linggis, untuk membongkar lantai tepat di bawah meja makan itu, sebagaimana khabar mimpi, mimpi cinta dari kakaknya tersayang yang hilang dengan lintasan waktu yang panjang.

Terjadilah pertentangan hebat, antara adik itu dan kakak ipar, ia dilarang membongkar sejengkal bidang pun di rumah itu. Tetapi polisi menengahi, kalau mimpinya itu tidak benar, adik perempuan itu akan ditahan, pembongkaran berdasar khabar mimpi akhirnya terjadi. Saat tepat adik itu akan membongkar, kakak iparnya lunglai, keringat dingin keluar, mulutnya terkunci. Lelaki itu merebut alat-alat yang dipegang adik iparnya, tetapi polisi lebih sigap mengantisipasi dia.

Ternyata, belum sampai pembongkaran sebegitu dalam, baru terbuka salah satu keramiknya, tepat di bawah meja makan rumah itu, nampaklah lembaran baju yang sudah amat diketahui adik itu, baju kakaknya. Jerit tangis membahama di rumah itu, khabar mimpi itu benar adanya: Dik, aku tidak ke mana-mana kok, aku tetap di rumah ini, tempatku tepat di bawah meja makan....

Kawan-kawan, jangan kau katakan orang yang mati itu mati--kata Tuhan--mereka tetap hidup, sayang kamu semua tidak mengetahui. Akhirnya kakak iparnya itulah yang digelandang polisi. Bagi Rumi, tidur itu sebenarnya mabuk Tuhan, semua panca indera mati, yang menyala ruh itu, Tuhan mengabari sesuatu itu bisa melalui mimpi, bahkan mimpi itu pintunya mukasyafah, tersingkapnya rahasia-rahasia, lagi-lagi tinggal kualitas cermin kita....