Kamis, 17 Juni 2010

Adzan Cinta

Sedulur tercinta, ketika aku ada acara di Solo menginap di Hotel Dana, sebelah barat Hotel itu ada mushalla, pas ada adzan Dhuhur. Aku simak kalimatnya sudah benar tetapi dibungkus dengan suara yang belum indah, kalau boleh digambarkan seperti menyulut mercon itu. Semua orang suruh mendengar ledakan itu tetapi yang menyulut ditutupi telinganya. Aku turun dan sempat menanyakan dari alumni mana dia.

Substansi adzan itu panggilan untuk menegakkan shalat dan panggilan mencari keberuntungan, dengan cara secara ritual, menghadirkan Tuhan di hati. Dengan kehadiran Tuhan di hati akan mewujudkan diri manusia menjelma menjadi cinta. Maknanya setiap apa yang menjadi gerak-geriknya menebarkan kesenangan dan kegembiraan hidup. Dengan demikian hati tidak sekedar segumpal darah, tetapi seluruh tubuh menjadi hati, setiap sendi yang digerakkan atas kehendak Allah akan mewujud menjadi nilai sedekah yang akan membikin manusia tersenyum.

Muadzin ini dalam ranah Syariah tidak masalah--sudah benar--tetapi dalam ranah muamalah yang bernuansa adab menjadi masalah. Kalau toh yang menjadi acuan Kanjeng Nabi, tentu beliau punya muadzin yang indah suaranya itu, Bilal. Sementara muadzin ini mengacuhkan kehidupan secara sosial, dengan menampilkan citra panggilah kepada Tuhan Yang Maha Indah dan suka kepada keindahan ini, dengan suara buruk, menghentak-hentak.

Aku yakin, andai Kanjeng Nabi masih hidup pasti dia tidak diperkenankan untuk menjadi muadzin, paling banter diperintah mengembala onta atau kambing. Aku membayangkan juga, Ibu-Ibu itu secara aturan masakannnya bagus, enak bahannya, tetapi kalau cara menawarkan kepada suami dengan nada seperti muadzin bersuara buruk itu, pasti suami mana yang mau mensyukuri masakan Ibu-Ibu seperti itu.

Aku bayangkan juga, para mubaligh-muballigh itu banyak yang bersuara buruk seperti muadzin itu. Secara teks normatif tidak salah, seperti kalimat adzan itu tidak salah, sudah benar. Keburukan panggilan itu terletak adanya kepentingan pribadi atau kelompok, yang menjadikan citra Islam sebagai rohmatan lil 'alamin menjadi runtuh, tidak terbukti dalam ranah kemesraan sosial. Bahkan hanya kepingin merendahkan orang lain, memperolok-olok pihak lain memakai legitimasi dalil-dalil, ujungnya hanya untuk membenarkan diri dan kelompoknya.

Kalau ini dilakukan, bukankah sebenarnya mereka menyembah berhala abstrak yang menempel pada dinding-dinding hatinya, mungkin lebih banyak dari berhala yang mereka olok-olok itu? Adzan, sarana panggilan beribadah secara ritual berati harus benar dan indah, demikian juga penyeru Islam, kalau toh digambarkan bagai muadzin, ya tentu secara tekstual benar, namun secara kontekstual juga harus indah, inillah adzan Cinta….

Kawan-kawan, dengan cara demikian umat tidak sekedar cinta agama, namun mengedepankan agama Cinta. Selanjutnya umat juga tidak sekedar larut dalam ritual ajaran, namun juga ikut membereskan kehidupan dengan pelayanan-pelayanan, secara universal, sebagai tanda keikhlasan, tanpa campuran….

Lidah Cinta

Sedulurku tercinta, ada makhluk tidak punya kaki bisa berjalan dan memanjat pohon semacem ular itu. Ada orang buta membaca dengan tangannya, ada orang tuna rungu memahami dengan isyarat-isyarat saja, ada orang bisu bicara dengan tubuhnya. Ada manusia cacat sepenuh tubuhnya, bisa terbang dengan jiwanya, tetapi ada manusia sempurna tubuhnya, karena miskin hasrat dan minat ia menjadi cacat sempurna. Ini ada anak sejak lahir buntung, tung, tanpa kedua tangan, tanpa kedua kaki. Karena telaten cinta dan sayang sang Ibu, ini anak tumbuh tanpa rendah diri, hasrat dan gairah hatinya menggelora, dibakar oleh api cinta terhadap jalan misteri ini, yakni rindu keindahan terus menemukan sumbernya, Dia itu sendiri.

Bagi orang lain derita, anak ini gembira, bagi orang lain gelap tapi anak ini bercahaya, bagi orang lain putus asa tapi bagi anak ini berharapan. Bagi orang lain bertengkar soal sepatu, soal kendaraan, soal partai, soal paham, soal ajaran, soal persoalan apa saja, bagi anak ini kecacatannya hanya menggiring keyatiman hatinya, akhirnya Dia bermahkota di dadanya. Kalau orang sampai pada titik ini berikhtiar saja belum tentu sampai, namun bagi anak ini dibalik deritanya di hatinya mekar bagai bunga teratai mengelopak, dan nampaklah ia dimahkotai seribu bunga, dihatinya. Senyumannya tetap mengembang kepada siapa saja. Sholat bagian dari puncak kerinduannya kepada Tuhan, yang belum tentu orang yang tanpa cacat bisa merasakannya.

Tuhan dipahami tetap Maha Adil, tidak akan menyia-nyiakan hamba, semacem dia itu. Di tangan seorang Ibu, yang bagai induk burung melatih terbang saat anak-anaknya sudah tumbuh bulu-bulunya, akhirnya bisa mengarungi angkasa. Anak ini hidup mandiri dengan lidahnya itu--lidah cinta--karena dengan ketelatenan yang sempurna ia bisa membikin gambar kristik, lukisan kaligrafi kristik. Bisa dibayangkan, kecacatan ini membikin malu siapa saja yang sempurna tubuhnya tetapi tanpa prestasi apa-apa dan menjadi beban bagi orang lain, khususnya orang tua.

Dia bikin gambar tokoh pahlawan nasional, gambar bunga-bunga, tulisan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan apa saja ekspresinya, termasuk gambar tokoh wayang-wayang, seperti Semar Bodronoyo. Betapa banyak anak-anak yang tumbuh berkembang dengan cacat, karena keberadaannya seperti tidak ada, hanya memperbanyak daftar kependudukan, dan mencari pekerjaan bukan membikin pekerjaan. Tetapi anak buntung ini, lewat lidahnya bisa membantu kebutuhan orang tuanya, diamnya adalah sebuah gerakan hidup yang menjadikan Tuhan nampak lebih terang dibalik kecacatannya itu….

Kawan-kawan, dengan apakah ia memasukkan dan mengeluarkan jarum kristik itu? Allahu Akbar, Subhanallah, dengan ujung lidahnya….

Tarian Cinta

Sedulurku tercinta, tarian sebenarnya suatu gerakan reflek karena suasana kegembiraan yang ada dalam hati. Lihatlah itu saat manusia mengalami kesenangan atas prestasi dunia, anak kau kabulkan permintaannya, lulus ujian sekolah, bisnis dapat untung,ketemu kekasih, menang sepakboa atau permainan apa saja, sampai setinggi masuk surga--yang aku anggap prestasi kurnia-kurnia membenda. Mereka menari dengan ekspresi spontan dengan sarana tubuh itu, melonjak-lonjak gegirangan.

Lihatlah ketika engkau ketamuan orang yang kau kagumi atau kau cintai itu, semisal gurumu, idiolamu, pujaan bintang-bintang--yang aku sebut tanjakan hati. Ketika orang menyanyikan lagu dari seorang penyanyi sudah demikian gembira hati, apalagi ketemu dengan sang penyanyi idiolanya. Melihat permainan sepakbola, atau permainan apa saja mereka sudah seneng apa lagi bisa ketemu langsung dengan pemain idiolanya itu.

Kegembiraan itu menjadikan hati menyala, lalu menyembul pada dataran fisik yang disebut tarian itu. Sama halnya kala ketemu dengan kekasih, hati berbunga-bunga secara gempita. Semua ini seiring dengan tarian semesta. Lihatlah tarian pepohonan atas desiran angin itu, tarian debu atas semburan asap knalpot sekalipun, tarian bunga-bunga dengan aroma wanginya, tarian pohon dengan menabur buah-buah segar, tarian potron dan neotron itu, tarian bulan dan bintang serta matahari itu, tarian galaksi-galaksi yang tak bertepi itu, tarian bidadari-bidadari surga sekalipun. Selain Dia adalah ciptaan, itu saja melahirkan tarian yang memabukkan.

Berlalulah kawan, terus menanjak pada saat hati merasa kehadiran Sang Pencipta, mata melihat dalam gegap semua menari,mata hati melihat makhluk samawi menari-nari. Semua atas kesyukuran wujud, dengan ujung Dia ingin dikenal. Mana keberadaan semesta raya yang tidak mengabarkan Dia. Kemana kita berpaling yang tidak menyaksikan wajahNya. Nikmat mana yang bisa kita dustakan, mana, mana, mana?

Tarian kegembiraan ini yang menjadikan energi tak bertepi, waktu itu sendiri wujud dari tarian rembulan dan matahari, ruang itu sendiri wujud karena gempita wujud ciptaan. Manakala hati merasakan dalam keintiman denganNya, apa artinya waktu dan ruang itu. Barang ciptaan mana yang pantas kita banggakan sebagai hadiah, selain hati itu kita serahkan kepadaNya. Ketika hati kita serahkan dan Dia berbagi di sana, kata mana bisa melukiskan tarian kegembiraan ini. Apa artinya berat, jauh, sakit, najis, derita, dan sebagainya itu.

Aku tidak mau memperolok kepada mereka yang yang hanya merasakan kurnia apa saja mereka menari-nari. Aku tidak mau meremehkan mereka yang hanya menikmati prestasi dalam lingkup ruang dan waktu saja mabuk kepayang. Tasbih dan tahmid serta takbir adalah bagian dari puncak tarian hati yang gembira-ria tiada tara. Andai mata hati mereka melihat Dia yang bersemayam di dada mereka sendiri, tentu mereka tidak gampang terkecoh oleh selainNya. Andai Dia bagai matahari di dadanya, mana mungkin ia berani-beraninya menyalakan lilin-lilin. Andai ada samudra ia lihat di dadanya, mereka tidak akan terkecoh oleh arus sungai-sungai yang berkelok-kelok itu. Andai mereka melihat Sang Raja di dadanya, tentu mereka tidak kaget atas semua teritorial walayahNya itu. Andai mereka menemukan Penambang di dadanya, tentu mereka tidak akan rebutan emas intan permata itu. Andai mereka menemukan Pelukis bidadari nan cantik, tentu mereka tidak akan terpuruk pada bayangan-bayangan kecantikan itu....

Kawan-kawan, ayo menari, ayo menari, ayo menari, tarian Cinta....

Janji Cinta

Sedulurku tercinta, ucapan manakala tidak dicegat oleh kepentingan adalah sebagai tanda dari hati, dan hati adalah rumah Tuhan di bumi. Hati manusia adalah tempat Dia berbagi. Ketika Tuhan pertamakali berusaha menunjukkan wajahNya, Dia menjadikan manusia sebagai kediamanNya. Seorang manusia yang mengenal pikiran batinnya, akan mengenal siapakah Tuhan sebenarnya. Pandangan ini tercipta setelah manusia menyadari bahwa pandangan mata kepala nyata-nyata cacat, terjadilah perniagaan mencari wujud--inilah jual beli besar-besaran--yang akan mengantarkan apa-apa yang diinginkan.

Ada orang yang bernama mBah Kemi, orang dusun dengan rumah reot dari bahan bambu, usianya mendekati seratus, ditemani oleh orang gila sambil membesarkan kambing-kambingnya. Satu hal yang tidak bisa ia tinggalkan, di malam-malam sunyi ia selalu berbisik dengan Allah melalui membaca Al-Qur'an, kalamNya.

Mungkin orang ini pernah mendengan dawuh Kanjeng Nabi, manakala ada Qur'an dibaca orang dan kita mendengar, merasalah bahwa Qur'an baru saja turun di hatimu. Manakala kamu membaca Qur'an, merasalah bahwa engkau sedang berbisik dengan Allah, Sang Kekasih. Kalau pas melihat dua orang satu gubuk ini bercengkrama, mereka sepertinya mentertawakan dunia, mereka asyik dalam dialog-dialog segar hingga tertawa lepas, hingga gigi-gigi ompong mereka nampak jelas, senyum yang menyiratkan kegembiraan temanten mau dipertemukan.

Anak mBah Kemi ini sudah meninggal semua, istrinya juga sudah meninggal. Bahkan gurunya yang mengantarkan dia bisa membaca Qur'an sebagai sarana berbisik dengan Gusti Allah, juga meninggal. Guru ngajinya itulah yang memberi kisah unik dalam hidupnya. Disebut unik, karena mBah Kemi ini atas terimakasihnya bisa mengaji, menjanjikan untuk mencarikan jodoh kepada gurunya yang masih remaja saat itu. Pada usia yang matang, guru ini menagih janji kepada mBah Kemi, janji cinta. Karena ikhtiar mentok tidak memperoleh calon istri bagi gurunya itu--masyaAllah--maka istrinya mBah Kemi ini diberikan kepada guru ngajinya, setelah alot dia cerai, karena mana ada istri diberikan kepada gurunya, hanya untuk menepati janji itu, janji cinta. Ini istri akhirnya mau, dengan niat menaati mBah Kemi itu.

Kini mereka semua sudah tiada, tapi MBah Kemi masih hidup--ya sama orang gila itu, dan bercumbu denganNya melalui Qur'an secara tartil. Semua diceritakan mBah Kemi dengan enteng tanpa beban, kadang dengan gurau-gurau lepas. Satu hal yang ditunggu masyarakat sekitarnya adalah saat hari raya Idul Qurban, disenja sebelum takbir orang sepuh dan orang gila itu menggiring beberapa kambing untuk menjadi sembelihan qurban di Masjid desanya.....

Kawan-kawan, aku percaya atas keamanan dunia ini, negara ini, kampung ini sebab masih ada orang yang sebaik Mbah Kemi. Allah sendiri menyatakan janjiNya, janji cinta juga bahwa Dia tidak akan memberikan kerusakan pada suatu negeri, manakala masih ada ahli negri tersebut masih saja ada orang yang berbuat kesalehan. Kesalehan seseorang--syukur kita--akan memberikan perlindungan cinta, sehingga laknat Tuhan tidak jadi diturunkan, cuma semua ini tidak bisa menjadi berita. Justru banyak berita yang hanya mengisyaratkan makan daging saudaranya, bukan kambing-kambingnya.....

Selidik Cinta

Sedulurku tercinta, ada seorang petani ketela pohon kehilangan beberapa batang dengan cara periodik, ia sadari sebagai sedekah. Termasuk hewan apa saja yang mengambil buah tanamannya, ia sadari sebagai sedekah. Itulah cahaya Rosul, cahaya Allah juga asalnya.

Pada terang bulan purnama petani ini keliling ke ladang, sebenarnya itu hanya cara untuk mengulur agar tidak terlalu tidur awal, hal ini tujuannya untuk menjegat para malaikat yang diturunkan ke bumi untuk membagi rahmat, siapapun yang terjaga, harapannya dikabulkan oleh Tuhan, Allah. Malam itu ada sosok yang mengelebat dicahayai temaram rembulan, ia saksikan sosok perempuan paro baya.
Ia tahan nafas, tahan batuk, tahan tidak bergerak, agar sosok perempuan yang turun ke ladangnya tidak terganggu, bahkan rokok pun dibunuhnya. Perempuan itu amat terburu, dengan segera mengencingi sebatang pohon agar mudah untuk mengangkatnya sebab air kencingnya menggemburkan tanah itu. Lalu perempuan itu terbirit pulang sementara petani itu mengikuti kemana langkah kaki terayun, dengan jarak agak jauh.

Pada akhirnya petani ini tahu, disudut desanya ada seorang janda yang ditinggal suaminya dengan anak tiga masih kanak-kanak semua, ya yang memungut sebatang pohon itu. Petani ini paham betul, rumahnya saja bahan dari bambu, atap rumbia lantai masih tanah di pinggir sawah. Lewat lubang dinding rumah janda itu, semua peristiwa di dalamnya terekam begitu menyentuh hatinya, bagai Sayyidina Umar menyelidik rakyatnya. Ia kupas ketela itu dengan cepatnya, lalu ia masak di atas perapian kayu bakar. Semua gerak tercahayai oncor minyak tanah terbuat dari bekas kaleng makanan.

Tiba-tiba anaknya terkecil menangis (nglilir), ia redam dengan kidung rumekso ing wengi, caping gunung, semua ia lakukan untuk mengelabui anaknya yang kelaparan sejak sore hari, sampai tertidur. Begitu terus ia lakukan manakala sedang tidak ada rejeki untuk menjamin anak-anaknya. Bagitu ketela sudah masak, pada jam menunjukkan angka 3, semua anak dibangunkan. Ia suguhkan makanan ketela godok itu di atas piring.

Petani itu melihat--walau hanya ketela--makannya dengan hasrat yang penuh, sorot matanya menunjukkan kegembiraan, Ibunya tersenyum getir. Kegetiran ini mengemuka karena melihat anak bisa makan malam ini walau ketela karena hasil curian dari petani itu. Setelah semua selesai, Ibu janda itu meninabobokkan anaknya kembali dengan dekapan yang hangat, dekapan cinta Ibu kepada anak-anaknya, walau di atas ranjang bambu. Mereka semua pulas.

Petani itu lalu pulang dengan titik kesadaran bahwa mencuri seorang Ibu janda ini bukan mencuri, bukan......

Kawan-kawan, usai sholat shubuh dari langgar (musholla kampung), seperti ada yang mengabarkan di hati janda itu bahwa malam tadi ada yang melihat semua yang ia lakukan, ia silaturrahmi ke petani ketela. Tentu dengan mengemukakan banyak hal tentang kalau pas tidak ada kebutuhan, ia mengambil ketela dari ladang petani itu, ujungnya ia minta dihalalkan.

Oh….--jawab petani terbata-bata, iya Ibu, aku halalkan semuanya, aku halalkan dunia akhirat. Aku berpesan kalau mengambil besok lagi jangan malam-malam, siang saja. Seperti tupai, kera, atau binatang apa saja aku ikhlaskan mengambil buah tanamanku, sebagai persembahan cintaku, dan menjadi sedekah hidupku, karena aku yakin mereka juga punya anak pinak seperti diri kita ini. Lalu istrinya keluar dengan membawa sekanthong beras, diserahkan kepada janda paro baya itu dengan senyum keikhlasan.....