Sedulurku tercinta, aku sering kedatangan seorang suami yang mengeluhkan istrinya, sampai ada yang stres karena ketidak-kuatan atas kemegahan istrinya dari sisi "ngomel"nya itu. Selalu aku sarankan: jangan bercerai, karena cerai itu perkara halal yang dibenci oleh Allah itu.
Lalu aku kisahkan tentang singa padang pasir Sayyidina Umar, dimana beliau walau punya kuasa sebagai khalifah dan suami, tetapi tetap rendah hati dengan fakta: beliau selalu kuat mendengar istrinya yang super ngomel itu. Aku tidak kaget kekuatan beliau ini karena pancaran cintanya Kanjeng Nabi saw membungkus diri beliau sehingga merelakan semua kejadian menggores pada dirinya.
Akupun bilang kepada para suami itu, seburuk apapun ocean burung-burung, semua adalah kreasi Allah yang sangat Indah. Seorang istri adalah amanah dari Allah, apalagi yang sering aku sebut bahwa wanita adalah bayang-bayangNya, dengan kesaksian: dari rahim wanitalah manusia sejagat ini lahir, sehingga siapaun lelaki yang meremeh-remehkan wanita maka ia akan menemukan kesulitan dalam proses menatap jamaliyahNya.
Dalam kehidupan sudah pada galibnya, suka duka, pahit manis, berat ringan, jauh dekat, sehat sakit dan seterusnya itu, termasuk dalam kehidupan rumah tangga. Kalau boleh di andaikan dunia ini adalah sebuah gunung, siapapun yang berteriak buruk, maka keburukan itu akan mengenai diri yang berteriak itu, demikian juga manakala teriakannya merdu maka kemerduan itu akan kembali ke diri mereka juga.
Orang mengira kehidupanku ini serba berkecukupan, ke sana ke mari diundang orang, ada uang ada makan enak melulu, tetapi kehidupan selalu punya kesamaan-kesamaannya, terutama diomeli istri itu, bahkan banyak suami yang gagah di kantornya tetapi habis riwayat manakala masuk rumahnya, seperti Sayyidina Umar itu. Banyak juga Kiai yang bagai singa podium saat di pengajian, namun punya nasib yang mengenaskan di depan Bu Nyai itu. Bukan Kiai tak bisa melawan, tetapi ittiba' kepada Sayyidina Ali itu, rata-rata mengalah, mengalah, mengalah, mengalah dan mengalah.
Mengalah itu aslinya meng-Allah, dimana goresan hidup selalu diprasangkai sebagai kado temanten dariNya, dimana kala dibuka isinya ternyata sekuntum bunga teratai yang bermahkotakan seribu bunga, artinya setiap ketidaksukaan suasana hati itu dipahami pasti ada hikmah agung di baliknya, pasti itu. Apalagi seperti aku ini banyak kelemahan dan kesalahan, dimana: hidupnya tidak pomah [selalu melayani panggilan pengajian--punten--tanpa transaksi], melek malam sudah pasti [maaf, sampai jarang kumpul malam, hehe], uang di mataku aku pandang uang manakala aku sedekahkan, kalau tidak aku merasa hanya menumpuk kertas, aku biasanya tak mau menunda besok pagi, dengan asumsi: iya kalau umurku nanti sampai besok pagi itu, belum kesalahan dan kelemahan yang lainnya. Maka, aku merelakan andai istriku marah atau ngomel seperti yang dialami oleh para suami yang berkonsultasi itu, tetapi nasib itu tidak selamanya, bahkan aku pahami sebagai derita yang melahirkan keterjagaan hatiku.
Pernah pada suatu ketika, istriku muring2 [ngomel melulu] dengan orkresta komentar, tetapi aku dengar dengan keta'dziman sebagai suami, ternyata ngomong itu juga tidak lama, paling hanya beberapa jam dan setelah itu diam. Ketika diam itulah aku dekati dengan tingkat kemesraan: masih adakah stok untuk dilanjutkan? Ternyata istriku bilang seperti nada bergurau: sebentar Mas, aku mau mengarang kata-katanya dulu! Meledaklah tawa dan senyumku padanya, dan kalau masih aku minta untuk dilanjutkan sepuasnya [sak lempohe, Jw]. Setelah kejadian itu sampai sekarang istriku tak pernah ngomel, paling banter hanya senyum padaku, ya senyum: dia pandang aku tanpa komentar itu.
Malah sampai pernah kejadian, dimana uang sepeserpun nggak ada, aku bangun pagi dalam keadaan lapar banget, maka istriku [dengan senyum] menyuguhkan sepiring nasi dengan sambal bawang [lombok, garam, bawang], maka dalam benakku tidak ada bibit marah, tetapi mengharu biru, dimana aku pahami cara ini dia menasehatiku dalam bahasa sunyi: biar aku mengerti sendiri! Akupun memandang suguhan itu sebagai suguhan yang terindah dalam hidupku, aku tidak mau meremehkan sentuhan lembut darinya walau sebiji nasi, karena sebiji nasi pun sampai dimulutku ini berkat sentuhan jutaan tangan manusia sampai dibibirku, lombok itu pun sentuhan lembut tanganNya, apalagi bawang itu kreasi Allah yang sangat indah dan penyedap yang lezat. Seketika aku menyongsong suguhan itu dengan hasrat yang menyala, aku makan dengan lahap dan rasa syukur yang tiada terkira, aku syukuri suguhan itu sampai aku meneteskan airmata, aku menangis bahagia, aku menangis bahagia!
Ternyata istriku memandang aku makan dengan penuh nyala hati ini pun menangis, dan ketika aku tanya kenapa dia menangis, dia menjawab: aku takut engkau marah dengan lauk sambal ini, ternyata prasangkaku salah, engkau makan dengan semangat melebihi lauk yang mahal sekalipun. Pagi itu aku makan dengan kuah airmata kesyukuran….
Kawan-kawan, sampaikan salam kepada istrimu semua, derita dan nestapa jangan sampai menjadikan mahligai rumah tanggamu retak, justru derita dan duka melahirkan perekat dan keterjagaan hati akan ingat karunia-karuniaNya ini, hatimu dan hati istrimu yang lembut akan melahirkan anak-anakmu yang berhati lembut: dimana di dadanya Tuhan bermahkota, dan anak-anakmu itu menjelma menjadi Cinta, hatimu akan bernyanyi pada anak-anakmu, amin ya Allah, amin ya Allah, amin ya Allah, amin….
Selasa, 19 Oktober 2010
Sabtu, 16 Oktober 2010
Gemetar Cinta
Sedulurku tercinta, bermula dari masa kecilku yang dilarang oleh pak guru Madrasah [ternyata dari dawuh Kanjeng Nabi saw] untuk tidak mengencingi lubang [leng, Jawa] karena di sana ada makhluk yang butuh tak diganggu, menjadikan hatiku sampai sekarang tidak tegaan jadinya. Sehingga pada puncak keimanan pun sebenarnya sejauh mana tangan dan lisan ini tidak mengganggu orang lain dan sejauhmana mencintai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri.
Aku tidak kuasa apa-apa, tetapi hati ini menjadi gemetaran saat mendengar pembantu rumah tangga dianiaya, melihat kuli bangunan diremeh-remehkan mandornya, anak-anak dihajar orang tuanya, dan silahkan cari penganiayaan yang lain, lalu [ini yang akan aku ceritakan] pelacur dikewer mucikarinya lalu dijambak rambutnya sambil didorong keras tubuhnya, lalu ditangkap pemesannya di sebuah hotel, tepat didepan pintu.
Aku langsung gemetaran, dan membayangkan andai dia punya suami, andai dia dilindungi keluarga, andai dia dilindungi pemerintah daerahnya, andai dia diurusi organisasi sosial agamanya, andai dia dirawat partai politiknya, andai dia dijamin negaranya andai dia, andai dia, andai dia, andai dia, andai dia, andai dia.
Kalau aku amati: orangnya cantik banget, tetapi sedemikian tidak berharga kehormatan dirinya. Ingin rasanya akan aku rebut dari pelanggannya dengan cara menebus kontraknya, bukan untuk keinginan menggaulinya, tetapi untuk membebaskannya itu dari penganiayaan yang entah kapan itu usainya, paling tidak saat aku melihat itu. Tetapi apa dayaku, aku tertunduk malu, dalam ranah Tauhid: ini juga kesalahanku, kesalahanku, kesalahanku!
Lalu aku teringat pesan Nabi saw sebelum meninggal: jagalah wanita, jagalah wanita, jagalah wanita, wanita adalah tiang negara, kalau mereka baik jayalah bangsa, kalau mereka buruk, hancurlah bangsa, sorga dibawah telapak kaki Ibu. Bahkan Gandhi pun menghargainya: tanpa wanita kemajuan tak akan bisa dicapai. Aku membayangkan apa yang terjadi di kamar itu, bisa menjadi ladang pembantaian nafsu, dia hanya dihargai tubuhnya tetapi tidak perasaannya, sedemikian kuat itu lembaran kertas yang namanya uang.
Banyak hal ini yang disalahkan adalah orang lain: salahnya sendiri!! Tetapi mana hidup ini yang sendiri, dalam kesatuan Wujud bukankah semua ini bersumber dari Satu Ruh, akhirnya aku beranikan menyalahkan diriku sendiri: aku salah, aku salah, aku salah!
Aku pahami dalam jeritan Tuhan pada Hadis Qudsi: Aku lapar kenapa kau tak memberiku makan, Aku sakit kenapa kau tak menjengukku, Aku haus kenapa kau tak memberiku minum, Aku telanjang kenapa kau tak memberiku pakaian, Aku, Aku, Aku, Aku.
Kalau demikian, dalam setiap perjalanan kita akan kita temui keadaan yang demikian, jeritan Tuhan ini hakekatnya adalah mewakili derita hambaNya. Citra keberagamaan kita sebenarnya diukur sejauhmana keterlibatan mengurusi derita umat ini, bukan pada indahnya pernik tasbih, bagusnya lembar sajadah dan kemegahan jubah-jubah itu, tetapi membebaskan derita hamba itulah bagian dari cara kita: mendekat atau taqarrub itu kepadaNya….
Kawan-kawan, jangankan soal-soal yang berat ini menyangkut manusia, bahkan ketika Kanjeng Nabi saw melihat seekor onta dibenani diluar batas kewajaran, beliau gemetar seluruh sendinya. Ow, ampuni aku ya Allah, ampuni aku ya Allah, ampuni aku ya Allah, aku hanya bisa melihat namun tak kuasa menolongnya….
Aku tidak kuasa apa-apa, tetapi hati ini menjadi gemetaran saat mendengar pembantu rumah tangga dianiaya, melihat kuli bangunan diremeh-remehkan mandornya, anak-anak dihajar orang tuanya, dan silahkan cari penganiayaan yang lain, lalu [ini yang akan aku ceritakan] pelacur dikewer mucikarinya lalu dijambak rambutnya sambil didorong keras tubuhnya, lalu ditangkap pemesannya di sebuah hotel, tepat didepan pintu.
Aku langsung gemetaran, dan membayangkan andai dia punya suami, andai dia dilindungi keluarga, andai dia dilindungi pemerintah daerahnya, andai dia diurusi organisasi sosial agamanya, andai dia dirawat partai politiknya, andai dia dijamin negaranya andai dia, andai dia, andai dia, andai dia, andai dia, andai dia.
Kalau aku amati: orangnya cantik banget, tetapi sedemikian tidak berharga kehormatan dirinya. Ingin rasanya akan aku rebut dari pelanggannya dengan cara menebus kontraknya, bukan untuk keinginan menggaulinya, tetapi untuk membebaskannya itu dari penganiayaan yang entah kapan itu usainya, paling tidak saat aku melihat itu. Tetapi apa dayaku, aku tertunduk malu, dalam ranah Tauhid: ini juga kesalahanku, kesalahanku, kesalahanku!
Lalu aku teringat pesan Nabi saw sebelum meninggal: jagalah wanita, jagalah wanita, jagalah wanita, wanita adalah tiang negara, kalau mereka baik jayalah bangsa, kalau mereka buruk, hancurlah bangsa, sorga dibawah telapak kaki Ibu. Bahkan Gandhi pun menghargainya: tanpa wanita kemajuan tak akan bisa dicapai. Aku membayangkan apa yang terjadi di kamar itu, bisa menjadi ladang pembantaian nafsu, dia hanya dihargai tubuhnya tetapi tidak perasaannya, sedemikian kuat itu lembaran kertas yang namanya uang.
Banyak hal ini yang disalahkan adalah orang lain: salahnya sendiri!! Tetapi mana hidup ini yang sendiri, dalam kesatuan Wujud bukankah semua ini bersumber dari Satu Ruh, akhirnya aku beranikan menyalahkan diriku sendiri: aku salah, aku salah, aku salah!
Aku pahami dalam jeritan Tuhan pada Hadis Qudsi: Aku lapar kenapa kau tak memberiku makan, Aku sakit kenapa kau tak menjengukku, Aku haus kenapa kau tak memberiku minum, Aku telanjang kenapa kau tak memberiku pakaian, Aku, Aku, Aku, Aku.
Kalau demikian, dalam setiap perjalanan kita akan kita temui keadaan yang demikian, jeritan Tuhan ini hakekatnya adalah mewakili derita hambaNya. Citra keberagamaan kita sebenarnya diukur sejauhmana keterlibatan mengurusi derita umat ini, bukan pada indahnya pernik tasbih, bagusnya lembar sajadah dan kemegahan jubah-jubah itu, tetapi membebaskan derita hamba itulah bagian dari cara kita: mendekat atau taqarrub itu kepadaNya….
Kawan-kawan, jangankan soal-soal yang berat ini menyangkut manusia, bahkan ketika Kanjeng Nabi saw melihat seekor onta dibenani diluar batas kewajaran, beliau gemetar seluruh sendinya. Ow, ampuni aku ya Allah, ampuni aku ya Allah, ampuni aku ya Allah, aku hanya bisa melihat namun tak kuasa menolongnya….
Kafarat Cinta
Sedulurku tercinta, ketika aku melihat semua bentuk derita, terbayangkan di baliknya adalah cahayaNya, sementara mereka yang tak tahu di balik penderitaan itu selalu mengeluh dengan bermacam ungkapan, lucu sebenarnya. Sikapku ini bukan tidak empati kepada derita dan kepayahan namun keprihatinan itu sebenarnya selubung dan di baliknya adalah kehendak baikNya itu, di balik kulit ada isi yang segar.
Kalau manusia merasakan kegembiraan dengan berbagai warna, waspadalah bahwa ujungnya bisa berubah kepahitan dan tragedi. Sekaliber singgasana Fir'aun, tragedinya adalah melahirkan supremasi dirinya itu di hadapan Tuhan, imperium diperoleh tetapi ia kehilangan di hatinya singgasana Tuhan, dia sendiri yang mengaku Tuhan. Namun bagi yang menderita dalam kepahitan, pahamilah pada ujungnya terasa sebagai manisan, memang tak merasakan kenyamanan dalam imperium itu, tetapi ia akan mendapatkan imperium lain yang Maha: Dia bermahkota di hatinya.
Aku bergembira selalu dipertemukan Tuhan kepada mereka-mereka yang nampak menderita, tetapi tidak sebenarnya, sebaliknya aku sering menemukan banyak orang yang nampak gembira tetapi hakekatnya menderita, derita yang dibungkus ketawa dan senyuman.
Misalnya pagi ini, aku dipertemukan seorang penjual jamu gendong ketika sedang jalan-jalan pagi, sambil jajan nasi pecel minumnya jamu paling pahit darinya itu [barangkali berguna bagi tubuhku]. Di samping penjual pecel dan jamu gendong ini, ada tukang sapu jalan, tukang becak, penjual kelontong kaki lima, satpan perusahaan, sopir truk yang kepayahan dan deru kendaraan yang lalu lalang dengan menjemput derita masing-masing. Aku sebut derita masing-masing, karena dunia ini batu gosok sementara manusianya dengan berbagai level adalah pedangnya, dan tentu yang menggenggam itu Tuhan, seburuk apapun mereka, iya kan?
Aku tak mampu menceritakan semua derita penggosokan ini, maka akan aku ceritakan satu saja: tukang jual jamu gendong yang aku reguk dari adonan tangannya yang paling pahit itu. Namanya Ibu Maryati [indah kan], alamatnya tidak sempat aku tanyakan, usianya 55 tahun, anaknya tujuh [semua di Jakarta], berkerudung sederhana, baju kebaya Jawa, pakai tapeh [jarit], sudah 25 tahun berjualan jamu gendong, [oh,iya] sandalnya jepit.
Dia berdinas mulai sehabis subuhan sampai jam sebelas siang, menjelang dhuhur, keuntungan bersih limapuluh ribu rupiyah. Ya, cara dia berjualan itu sederhana: ia hanya berjalan terus dari gang ke gang, dari kampung ke kampung, ternyata merekalah yang memanggil dia, bukan dia yang bengak-bengok [gembar-gembor] menawarkan. Dia tidak mau bantuan anak-anak yang dibesarkan itu, walau sukes di Jakarta.
Kemandiriannya itu yang aku takjubi, ya dia tak mau mandek namun terus bergerak, sampai ajal tiba--katanya. Senyum tetap mengembang: sepanjang jalan. Sesaat aku termenung oleh kata-kata Iqbal: semesta ini penempaan, semua bergerak: matahari, bulan, bintang-bintang dan gugusan bintang-bintang, kalau kau tak bergerak maka mingggirlah karena kau tak siap dalam dunia penempaan ini, jadilah kau bunga tanpa aroma dan gelak tanpa tawa.
Aku lebih terpikat pesona Ibu Maryati ini dibanding khabar-khabar besar di televisi dan koran yang nggegirisi itu: anda tahu sendiri kan? Aku melihat dia: senja yang bertaburan akan fajar, ia menyongsong sang ajal dengan semangat yang menyala, tetap bekerja, tetap bekerja. Aku bayangkan betapa bening hatinya, karena derita kerja dengan kesungguhan dan kesetiaan itu mengantarkan dia pada ampunan Tuhan.
Kanjeng Nabi saw menyatakan: kerja keras itu menjadi kafarat dosa, yakni menjadi tebusan dosa. Bahkan sekecil kena ujung jarum saja menjadi kafarat dosa. Akhirnya dalam hatiku menjerit-njerit: Wahai saudara-sadaraku yang dilanda musibah, saudara-saudaraku penyapu jalan kota yang sungguh-sungguh, saudara-saudaraku tukang becak yang megah kesabarannya, saudara-saudaraku yang teraniaya, saudara-saudaraku para sopir yang hati-hati, saudara-saudaraku siapapun kamu yang merasa menderita, jangan bersedih dan mengeluh, ayo teruslah melaju dalam penantian nan indah ini, menuju kepadaNya, lebih berharga mana kau tanpa derita tetapi hatimu kosong tanpa Dia tuan rumahnya, dibanding imperium tak kau punya tetapi dipuncak deritamu Dia bermahkota di hatimu, ayo, ayo, ayo, ayo......
Sedulurku, begitu jeritan hatiku terhenti, Ibu Maryati berpamitan dariku dengan setumpuk do'a: mas, mugi panjenengan pinaringan sehat panjang umur murah rejeki, pinaringan anak-anak ingkang sae-sae, pengeran ndandosi lahir batin panjenengan sarono manah ingkang sae lan suci, soho pinter olehe nyukuri kanikmatan, pareng-pareng....
Suaranya masih terngiang entah sampai kapan ini...
Kalau manusia merasakan kegembiraan dengan berbagai warna, waspadalah bahwa ujungnya bisa berubah kepahitan dan tragedi. Sekaliber singgasana Fir'aun, tragedinya adalah melahirkan supremasi dirinya itu di hadapan Tuhan, imperium diperoleh tetapi ia kehilangan di hatinya singgasana Tuhan, dia sendiri yang mengaku Tuhan. Namun bagi yang menderita dalam kepahitan, pahamilah pada ujungnya terasa sebagai manisan, memang tak merasakan kenyamanan dalam imperium itu, tetapi ia akan mendapatkan imperium lain yang Maha: Dia bermahkota di hatinya.
Aku bergembira selalu dipertemukan Tuhan kepada mereka-mereka yang nampak menderita, tetapi tidak sebenarnya, sebaliknya aku sering menemukan banyak orang yang nampak gembira tetapi hakekatnya menderita, derita yang dibungkus ketawa dan senyuman.
Misalnya pagi ini, aku dipertemukan seorang penjual jamu gendong ketika sedang jalan-jalan pagi, sambil jajan nasi pecel minumnya jamu paling pahit darinya itu [barangkali berguna bagi tubuhku]. Di samping penjual pecel dan jamu gendong ini, ada tukang sapu jalan, tukang becak, penjual kelontong kaki lima, satpan perusahaan, sopir truk yang kepayahan dan deru kendaraan yang lalu lalang dengan menjemput derita masing-masing. Aku sebut derita masing-masing, karena dunia ini batu gosok sementara manusianya dengan berbagai level adalah pedangnya, dan tentu yang menggenggam itu Tuhan, seburuk apapun mereka, iya kan?
Aku tak mampu menceritakan semua derita penggosokan ini, maka akan aku ceritakan satu saja: tukang jual jamu gendong yang aku reguk dari adonan tangannya yang paling pahit itu. Namanya Ibu Maryati [indah kan], alamatnya tidak sempat aku tanyakan, usianya 55 tahun, anaknya tujuh [semua di Jakarta], berkerudung sederhana, baju kebaya Jawa, pakai tapeh [jarit], sudah 25 tahun berjualan jamu gendong, [oh,iya] sandalnya jepit.
Dia berdinas mulai sehabis subuhan sampai jam sebelas siang, menjelang dhuhur, keuntungan bersih limapuluh ribu rupiyah. Ya, cara dia berjualan itu sederhana: ia hanya berjalan terus dari gang ke gang, dari kampung ke kampung, ternyata merekalah yang memanggil dia, bukan dia yang bengak-bengok [gembar-gembor] menawarkan. Dia tidak mau bantuan anak-anak yang dibesarkan itu, walau sukes di Jakarta.
Kemandiriannya itu yang aku takjubi, ya dia tak mau mandek namun terus bergerak, sampai ajal tiba--katanya. Senyum tetap mengembang: sepanjang jalan. Sesaat aku termenung oleh kata-kata Iqbal: semesta ini penempaan, semua bergerak: matahari, bulan, bintang-bintang dan gugusan bintang-bintang, kalau kau tak bergerak maka mingggirlah karena kau tak siap dalam dunia penempaan ini, jadilah kau bunga tanpa aroma dan gelak tanpa tawa.
Aku lebih terpikat pesona Ibu Maryati ini dibanding khabar-khabar besar di televisi dan koran yang nggegirisi itu: anda tahu sendiri kan? Aku melihat dia: senja yang bertaburan akan fajar, ia menyongsong sang ajal dengan semangat yang menyala, tetap bekerja, tetap bekerja. Aku bayangkan betapa bening hatinya, karena derita kerja dengan kesungguhan dan kesetiaan itu mengantarkan dia pada ampunan Tuhan.
Kanjeng Nabi saw menyatakan: kerja keras itu menjadi kafarat dosa, yakni menjadi tebusan dosa. Bahkan sekecil kena ujung jarum saja menjadi kafarat dosa. Akhirnya dalam hatiku menjerit-njerit: Wahai saudara-sadaraku yang dilanda musibah, saudara-saudaraku penyapu jalan kota yang sungguh-sungguh, saudara-saudaraku tukang becak yang megah kesabarannya, saudara-saudaraku yang teraniaya, saudara-saudaraku para sopir yang hati-hati, saudara-saudaraku siapapun kamu yang merasa menderita, jangan bersedih dan mengeluh, ayo teruslah melaju dalam penantian nan indah ini, menuju kepadaNya, lebih berharga mana kau tanpa derita tetapi hatimu kosong tanpa Dia tuan rumahnya, dibanding imperium tak kau punya tetapi dipuncak deritamu Dia bermahkota di hatimu, ayo, ayo, ayo, ayo......
Sedulurku, begitu jeritan hatiku terhenti, Ibu Maryati berpamitan dariku dengan setumpuk do'a: mas, mugi panjenengan pinaringan sehat panjang umur murah rejeki, pinaringan anak-anak ingkang sae-sae, pengeran ndandosi lahir batin panjenengan sarono manah ingkang sae lan suci, soho pinter olehe nyukuri kanikmatan, pareng-pareng....
Suaranya masih terngiang entah sampai kapan ini...
Senin, 20 September 2010
Seruling Cinta
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Apa pun yang menggores tubuh ini indah adanya
akulah saksi CintaMU
aku adalah Engkau yang jatuh cinta
dengan diriMu
aku adalah Engkau yang mencari CintaMu sendiri
aku ada di tempat yang tak terjangkau pemikiran
ketika aku tinggalkan segalanya selain Engkau
aku fana dalam diriMu
aku tidak ada
aku menjadi apa saja yang Engkau bentuk
aku adalah pena diantara dua jariMu
aku tak akan bergerak sendiri
aku akan menulis apa pun
yang ingin Engkau katakan
aku patung Engkau pemahatnya
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Dalam penjara rahim Ibuku
beliaulah yang mengabarkan pesona dunia
Dalam penjara rahim dunia
kekasihMu yang mengabarkan pesona sorga
dengan panduan Cinta
KekasihMu itu sandaran hatiku
setelah Engkau
beliaulah gondelan dunia akhiratku
KekasihMu itu
orang yang terbakar Cinta
tak terpikat oleh aroma dan warna
beliau melihat Keindahan itu sendiri
dimana dan kapan saja
beliau mentahkan kerangka opini
dan merasakan itu pengalaman langsung
beliau merobek-robek pemikiran
dan membuka kesadaran
beliau menyeberangi lautan
menuju sumber ma'rifat ini
Dalam menggapai kafilah kekasihMu
aku akan terus mencari SahabatMu sejati
di tengah puing-puing reruntuhan
akan aku cari orang-orang tulen
dan akan aku tempel terus
boleh jadi ia penjaga Harta Karun tersembunyi.
Apa pun yang menggores tubuh ini indah adanya
akulah saksi CintaMU
aku adalah Engkau yang jatuh cinta
dengan diriMu
aku adalah Engkau yang mencari CintaMu sendiri
aku ada di tempat yang tak terjangkau pemikiran
ketika aku tinggalkan segalanya selain Engkau
aku fana dalam diriMu
aku tidak ada
aku menjadi apa saja yang Engkau bentuk
aku adalah pena diantara dua jariMu
aku tak akan bergerak sendiri
aku akan menulis apa pun
yang ingin Engkau katakan
aku patung Engkau pemahatnya
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Dalam penjara rahim Ibuku
beliaulah yang mengabarkan pesona dunia
Dalam penjara rahim dunia
kekasihMu yang mengabarkan pesona sorga
dengan panduan Cinta
KekasihMu itu sandaran hatiku
setelah Engkau
beliaulah gondelan dunia akhiratku
KekasihMu itu
orang yang terbakar Cinta
tak terpikat oleh aroma dan warna
beliau melihat Keindahan itu sendiri
dimana dan kapan saja
beliau mentahkan kerangka opini
dan merasakan itu pengalaman langsung
beliau merobek-robek pemikiran
dan membuka kesadaran
beliau menyeberangi lautan
menuju sumber ma'rifat ini
Dalam menggapai kafilah kekasihMu
aku akan terus mencari SahabatMu sejati
di tengah puing-puing reruntuhan
akan aku cari orang-orang tulen
dan akan aku tempel terus
boleh jadi ia penjaga Harta Karun tersembunyi.
Seruling Cinta
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Ketika orang-orang bertanya siapa aku?
Aku tertawa keras atas ketidak mungkinan menjawabnya
Bukankah kendaraan siang dan malam dunia
hanya untuk menghabiskan kehidupanku:mencari aku
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Kala ujungnya aku temukan diriku
kesimpulannya bahwa aku tidak ada
Aku adalah sebuah misteri
Semua atribut-atribut inilah:selubung
yang memburamkan cerminku
memandangMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Kalau orang-orang bilang "jalan" ini
adalah penyimpangan
sudah selayaknya aku sandang
Biar mereka puas
sebutlah aku ini setan sekalian
sebab aku tidak ada
tidak ada
Yang ada hanya Engkau semata
Pesta raya "rasa" ini memuncak
memabukkan hatiku
hingga tidak peduli atribut-atribut itu
sebab mana yang bisa aku bawa kepadaMu
selain hati ini
rumahMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Aku tidak menyesal
walau dunia melupakanku
asal aku mengingatMu
sebab Engkaulah Yang Maha Raja
mengutus ke Taman ini
untuk mengasah diri
Memang tugasMu amat sangat berat
tetapi biarlah: aku rela
Karena dengan mencintaiMu
segala derita musnah
duri sekalipun bagiku terasa roti
semua yang menggores hidupku
adalah kado dariMu
setelah aku buka isinya
ternyata sekuntum bunga teratai
yang bermahkotakan seribu bunga itu
hingga semua nampak indah adanya
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Jalan sunyi ini dikira orang terasing
jauh dan menjauhi hiruk pikuk dunia
tetapi tidak bagiku
Sejarah memberi kesaksian
dipuncak orang-orang putus asa
Engkau taburkan harapan
Engkau terangi cahaya
bahkan dipuncak derita: Engkau bermahkota
ujung dari segala penempaan
melahirkan keterjagaanku
mengingatMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Betapa nyata dan terangnya Engkau
dalam misteri ini
Perjalanan ini bagiku asyik
segala yang ada mengabarkan tentang Engkau
bagaimana bisa aku melupakanMu
Engkaulah yang Tercinta
Engkaulah kekuatan Cinta
dalam kalbuku
Begitu aku menatap kalbuku:
Engkau ada di sana
aku menemukanmU
bukan di tempat lain
Hanya ada satu
diriMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Engkaulah identitasku sebenarnya
Kesadaran ini menghidupkanku
dalam setiap langkah hidupku
aku mencari Aku
dalam kegairahan yang menyala
bagai kegairahan Zulaikha menggapai baju Yusuf itu
bagai Sayyidina Ali mengejar jejak hijrah Kanjeng Nabi itu
bagai Qois merindukan Layla itu
bagai Nabi Ya'kub merindukan anaknya Yusuf itu
Kenyerian prosesi ini aku bayar
demi mengenalMu
demi menjumpaiMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Keterpisahan ini bagai gelombang diriku
sementara Engkaulah samudra raya itu
pemikiran dan perbuatanku
hanyalah arus dari lautanMu
bagai anak panah lepas dari busurnya itu
sementara Engkaulah yang melepaskannya itu
Kalau aku seruling Engkaulah peniupnya
Kalau aku biola Engkaulah penggeseknya
Kalau aku gitar Engkaulah pemetiknya
Kalau aku gamelan Engkaulah penabuhnya
Kalau aku rebana Engkaulah pemukulnya
Kalau aku pedang Engkaulah pemegangnya
Kalau aku debu Engkaulah penggosoknya
Kalau aku kapal Engkaulah nakodanya
Bukan aku sumbar perbuatan ini
melinkan diriMu
diriMu
diriMu
diriMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Dalam arus cintaku menuju samudraMu
aku hanya mengalir:pasrah menyerah
bagai rintik hujan yang jatuh itu
keterpisahan air cinta dari samudra
menyerah dalam proses kembali
melalui lahan-lahan bumi
melalui sawah tambak petani
mengalir dalam benturan sungai berkelok
disongsong gelombang
disambut karang meradang
berbantak ombak
berselimut angin mendesau
lalu Engkau mahkotai itu rintik air
di kedalam samudra cintaMu
menjadi butiran-butiran mutiara
sebagai harta tersembunyi
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Mutiara-mutiara itu ada di dadaku
Engkau bentur-benturkan diri ini
dengan gebalau peristiwa
aku tetap menyerah
aku tahu dan menyadari tujuanMu
untuk melampaui banyak keadaan
Ampunilah kedahagaanku ini
anugrahilah tenaga merenung
dalam semua aspek diriMu
jauhkan aku dari perangkap tataran
agar melangkah lebih jauh
larut dalam samudra CintaMu
dan menjadi mabuk
agar seperti diriMu: menjelma Cinta
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Sayap kegembiraan hatiku dalam penyatuan
dan sayap derita pilu perpisahan denganMu
menerbangkan jiwaku
Kemajemukan yang tidak terbatas
aku pandang: betapa besar gambar ini
semua adalah kurnia-kurniaMu
yang menjadi tongkat penuntun menujuMU
tetapi apa artinya tongkat
andai aku telah melihatMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Ketika aku lihat harmoni Taman
Engkau ada di situ
saat aku mereguk kopi pahit
teras olehku mengecup bibirMu
kala aku memandang istri :
wajah,alis,tahi lalat dan kemerahan bibirnya
Engkau nampak lebih terang
dibalik selubung halusMu ini
kemana aku berpaling: disitulah wajahMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Ajaran dari mata rantai kekasihMu
bagai wangi bunga-bunga beraroma
aku tidak sekedar cinta agama
namun tumbuh di dadaku: agama cinta
yang memandu menuju Taman Kebahagiaan
Bagiku ajara-ajaran ini
tak sekedar nampak dalam pernik tasbih
keindahan sajadah
dan kemegahan jubah-jubah
tetapi kemabukan dalam pelayanan kemanusiaan
inilah sejatinya keberagamaan
dan keperibadatan
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Aku ingin keikhlasan bagai pohon itu
mempersembahkan buah-buah segar
sebagai hidangan semesta raya
tanpa sekat perbedaan
bagai roti dan nasi diriku
untuk disapa dan menyapa:semua orang
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Dalam berenang mengarungi arus cinta ini
aku peluk misteriMu
dengan meninggalkan keterpenjaraan
aku ingin berkembang dan berenang
menuju samudra CintaMU
Manisnya derita perjalanan ini
bagai pilu lengkingan seruling
yang merdu terbakar rindu
yang menggesa ingin kembali
ke rumpun bambu
Aku cemas terhadap ahitnya kegembiraan
walau di surga
tanpa gairah mencari
hati menjadi mati
Kegembiraanku tidak menunggu esok hari
sekarang ini aku bahagia
karena mendekatiMu
aku merdeka dari dimensi ruang dan waktu
setelah merasa bulu-bulu cintaku tumbuh
aku akan terbang meninggalkan sarang
yang penuh kotoran-kotoran ini
menujuMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Setelah matang dalam rahim Ibuku
aku lahir dalam dunia tujuh warna
matangkan aku dalam rahim dunia
agar aku lahir dari dunia
menuju tak terhinggan warna
Aku reguk ludah suci kekasihMu
apapun yang disandarkan kepadanya
adalah panggilan cinta
aku akan pasrah
walau mengaburkan pikiran-pikiran
karena cinta banyak sayap-sayapnya
walau terselip pedang didalamnya
aku akan pasrah
walau melukaiku
Ketika orang bilang itu fantasi
yang memperdaya
sampai orang bilang:aku gila
terserah
Aku terpesona oleh lidah suci ini
aku takjub oleh khabar suci ini
Keyakinanku bagai khabar Ibuku
kala aku dalam rahimnya itu:
Nak,di luar dunia gelapmu akan kau lihat nanti
ada alam raya yang tertata
menakjubkan penuh pesona
tunggulah sampai engkau lahir
engkau akan melihat bumi langit yang amat luas
tersedia makanan na lezat-lezat
ada pegunungan
ada samudra
ada lembah
ada kebun buah-buahan nan semerbak
ada ladang-ladang penuh hasil bumi
ada langit yang berkilauan cahaya
dengan matahari,bulan dan bintang tak terbilang
ada angin semilir
ada taman-taman berbunga harum mewangi
semua laksana jamuan pesta pernikahan
keajaiban-keajaiban dunia ini tak terlukiskan
Nak,sabarlah dalam penjara rahimku
reguklah darah lewat pembuluk cintaku
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Kini aku saksikan sendiri
khabar dibalik tabir gelap rahim itu nyata
nyata
nyata
nyata
Maka ketika kekasihMu mengabarkan pesona
dibalik rahim gelap dunia ini: aku percaya
Aku percaya
Aku percaya
Aku
Percaya!
Ketika orang-orang bertanya siapa aku?
Aku tertawa keras atas ketidak mungkinan menjawabnya
Bukankah kendaraan siang dan malam dunia
hanya untuk menghabiskan kehidupanku:mencari aku
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Kala ujungnya aku temukan diriku
kesimpulannya bahwa aku tidak ada
Aku adalah sebuah misteri
Semua atribut-atribut inilah:selubung
yang memburamkan cerminku
memandangMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Kalau orang-orang bilang "jalan" ini
adalah penyimpangan
sudah selayaknya aku sandang
Biar mereka puas
sebutlah aku ini setan sekalian
sebab aku tidak ada
tidak ada
Yang ada hanya Engkau semata
Pesta raya "rasa" ini memuncak
memabukkan hatiku
hingga tidak peduli atribut-atribut itu
sebab mana yang bisa aku bawa kepadaMu
selain hati ini
rumahMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Aku tidak menyesal
walau dunia melupakanku
asal aku mengingatMu
sebab Engkaulah Yang Maha Raja
mengutus ke Taman ini
untuk mengasah diri
Memang tugasMu amat sangat berat
tetapi biarlah: aku rela
Karena dengan mencintaiMu
segala derita musnah
duri sekalipun bagiku terasa roti
semua yang menggores hidupku
adalah kado dariMu
setelah aku buka isinya
ternyata sekuntum bunga teratai
yang bermahkotakan seribu bunga itu
hingga semua nampak indah adanya
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Jalan sunyi ini dikira orang terasing
jauh dan menjauhi hiruk pikuk dunia
tetapi tidak bagiku
Sejarah memberi kesaksian
dipuncak orang-orang putus asa
Engkau taburkan harapan
Engkau terangi cahaya
bahkan dipuncak derita: Engkau bermahkota
ujung dari segala penempaan
melahirkan keterjagaanku
mengingatMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Betapa nyata dan terangnya Engkau
dalam misteri ini
Perjalanan ini bagiku asyik
segala yang ada mengabarkan tentang Engkau
bagaimana bisa aku melupakanMu
Engkaulah yang Tercinta
Engkaulah kekuatan Cinta
dalam kalbuku
Begitu aku menatap kalbuku:
Engkau ada di sana
aku menemukanmU
bukan di tempat lain
Hanya ada satu
diriMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Engkaulah identitasku sebenarnya
Kesadaran ini menghidupkanku
dalam setiap langkah hidupku
aku mencari Aku
dalam kegairahan yang menyala
bagai kegairahan Zulaikha menggapai baju Yusuf itu
bagai Sayyidina Ali mengejar jejak hijrah Kanjeng Nabi itu
bagai Qois merindukan Layla itu
bagai Nabi Ya'kub merindukan anaknya Yusuf itu
Kenyerian prosesi ini aku bayar
demi mengenalMu
demi menjumpaiMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Keterpisahan ini bagai gelombang diriku
sementara Engkaulah samudra raya itu
pemikiran dan perbuatanku
hanyalah arus dari lautanMu
bagai anak panah lepas dari busurnya itu
sementara Engkaulah yang melepaskannya itu
Kalau aku seruling Engkaulah peniupnya
Kalau aku biola Engkaulah penggeseknya
Kalau aku gitar Engkaulah pemetiknya
Kalau aku gamelan Engkaulah penabuhnya
Kalau aku rebana Engkaulah pemukulnya
Kalau aku pedang Engkaulah pemegangnya
Kalau aku debu Engkaulah penggosoknya
Kalau aku kapal Engkaulah nakodanya
Bukan aku sumbar perbuatan ini
melinkan diriMu
diriMu
diriMu
diriMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Dalam arus cintaku menuju samudraMu
aku hanya mengalir:pasrah menyerah
bagai rintik hujan yang jatuh itu
keterpisahan air cinta dari samudra
menyerah dalam proses kembali
melalui lahan-lahan bumi
melalui sawah tambak petani
mengalir dalam benturan sungai berkelok
disongsong gelombang
disambut karang meradang
berbantak ombak
berselimut angin mendesau
lalu Engkau mahkotai itu rintik air
di kedalam samudra cintaMu
menjadi butiran-butiran mutiara
sebagai harta tersembunyi
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Mutiara-mutiara itu ada di dadaku
Engkau bentur-benturkan diri ini
dengan gebalau peristiwa
aku tetap menyerah
aku tahu dan menyadari tujuanMu
untuk melampaui banyak keadaan
Ampunilah kedahagaanku ini
anugrahilah tenaga merenung
dalam semua aspek diriMu
jauhkan aku dari perangkap tataran
agar melangkah lebih jauh
larut dalam samudra CintaMu
dan menjadi mabuk
agar seperti diriMu: menjelma Cinta
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Sayap kegembiraan hatiku dalam penyatuan
dan sayap derita pilu perpisahan denganMu
menerbangkan jiwaku
Kemajemukan yang tidak terbatas
aku pandang: betapa besar gambar ini
semua adalah kurnia-kurniaMu
yang menjadi tongkat penuntun menujuMU
tetapi apa artinya tongkat
andai aku telah melihatMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Ketika aku lihat harmoni Taman
Engkau ada di situ
saat aku mereguk kopi pahit
teras olehku mengecup bibirMu
kala aku memandang istri :
wajah,alis,tahi lalat dan kemerahan bibirnya
Engkau nampak lebih terang
dibalik selubung halusMu ini
kemana aku berpaling: disitulah wajahMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Ajaran dari mata rantai kekasihMu
bagai wangi bunga-bunga beraroma
aku tidak sekedar cinta agama
namun tumbuh di dadaku: agama cinta
yang memandu menuju Taman Kebahagiaan
Bagiku ajara-ajaran ini
tak sekedar nampak dalam pernik tasbih
keindahan sajadah
dan kemegahan jubah-jubah
tetapi kemabukan dalam pelayanan kemanusiaan
inilah sejatinya keberagamaan
dan keperibadatan
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Aku ingin keikhlasan bagai pohon itu
mempersembahkan buah-buah segar
sebagai hidangan semesta raya
tanpa sekat perbedaan
bagai roti dan nasi diriku
untuk disapa dan menyapa:semua orang
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Dalam berenang mengarungi arus cinta ini
aku peluk misteriMu
dengan meninggalkan keterpenjaraan
aku ingin berkembang dan berenang
menuju samudra CintaMU
Manisnya derita perjalanan ini
bagai pilu lengkingan seruling
yang merdu terbakar rindu
yang menggesa ingin kembali
ke rumpun bambu
Aku cemas terhadap ahitnya kegembiraan
walau di surga
tanpa gairah mencari
hati menjadi mati
Kegembiraanku tidak menunggu esok hari
sekarang ini aku bahagia
karena mendekatiMu
aku merdeka dari dimensi ruang dan waktu
setelah merasa bulu-bulu cintaku tumbuh
aku akan terbang meninggalkan sarang
yang penuh kotoran-kotoran ini
menujuMu
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Setelah matang dalam rahim Ibuku
aku lahir dalam dunia tujuh warna
matangkan aku dalam rahim dunia
agar aku lahir dari dunia
menuju tak terhinggan warna
Aku reguk ludah suci kekasihMu
apapun yang disandarkan kepadanya
adalah panggilan cinta
aku akan pasrah
walau mengaburkan pikiran-pikiran
karena cinta banyak sayap-sayapnya
walau terselip pedang didalamnya
aku akan pasrah
walau melukaiku
Ketika orang bilang itu fantasi
yang memperdaya
sampai orang bilang:aku gila
terserah
Aku terpesona oleh lidah suci ini
aku takjub oleh khabar suci ini
Keyakinanku bagai khabar Ibuku
kala aku dalam rahimnya itu:
Nak,di luar dunia gelapmu akan kau lihat nanti
ada alam raya yang tertata
menakjubkan penuh pesona
tunggulah sampai engkau lahir
engkau akan melihat bumi langit yang amat luas
tersedia makanan na lezat-lezat
ada pegunungan
ada samudra
ada lembah
ada kebun buah-buahan nan semerbak
ada ladang-ladang penuh hasil bumi
ada langit yang berkilauan cahaya
dengan matahari,bulan dan bintang tak terbilang
ada angin semilir
ada taman-taman berbunga harum mewangi
semua laksana jamuan pesta pernikahan
keajaiban-keajaiban dunia ini tak terlukiskan
Nak,sabarlah dalam penjara rahimku
reguklah darah lewat pembuluk cintaku
Duhai Tuhan kami,ya Allah
Kini aku saksikan sendiri
khabar dibalik tabir gelap rahim itu nyata
nyata
nyata
nyata
Maka ketika kekasihMu mengabarkan pesona
dibalik rahim gelap dunia ini: aku percaya
Aku percaya
Aku percaya
Aku
Percaya!
Langganan:
Postingan (Atom)