Kamis, 03 Juni 2010

Becak Cinta

Sedulurku tercinta, tidak lengkap rasanya kalau kisah orang sholeh ini tidak aku percikkan, karena menuturkan sejarah dan sifat orang sholeh, wewangian adab mereka akan memercik ke kita, serta mendongengkan fadhilah2 mereka akan memberkati kita, bahkan manakala menemukan kuburan mereka dianjurkan berziarah, jasad mereka meninggal tapi tidak ruhnya.
Tuhan sendiri yang menyatakan, jangan kamu katakan bahwa orang yang berjalan di Jalan Allah itu mati, mereka tetap hidup, sayang kamu sekalian tidak mengerti. Aku tahu kesalehan mereka karena pas mengisi acara di tempatnya, sekitar Semarang ini, kota atlas. Orang sholeh ini, tidak berpangkat, tidak berdarah biru, tidak kaya bahkan tidak punya apa-apa, kecuali cinta, orang kecil (wong cilik) tetapi jiwanya besar, tidak dikenal dunia, insya Allah masyhur disisiNya.
Dia tukang becak, ya becak itu yang menjadi sarananya cari kawelasan dari Allah, umurnya dihabiskan mbecak sampai serenta itu, enam puluh tahun lebih, tapi sorot matanya menyiratkan hasrat jiwa yang menyala, hingga orang yang setara dia sudah lumpuh, otot dia terenergi oleh semangat yang membara. Ketika dia narik becak nafasnya berdzikir dan bersholawat, dengan gagah dan megah bagai nakoda kapal mengarungi samudra.
Setiap yang naik becaknya, dia tanpa transaksi uang, diantar kemana mereka tuju, ketika diberi hadian uang, ia terima dengan takdzim dan rasa syukur tiada tara, sambil mendoakan yang memberi dalam banyak hal, panjang umur, murah rejeki, anak saleh dan seterusnya. Ternyata malah melebihi andai ia main transaksi.
Seminggu dia mbecak, ada satu hari dia libur, preinya ini bukan tidak mbecak tetapi dia tetep mbecak namun membebaskan orang menghadiahinya, ini dia lakukan pas pada hari Jumat. Kebiasaan itu sudah dilakukan puluhan tahun, dengan niat yang sangat indah, mohon kepada Allah supaya mengantarkan dia bisa ziarah ke makam kekasihnya, Kanjeng Nabi itu.
Gayung bersambut, Kanjeng Nabi selalu tidak mengecewakan umatnya, yang mendamba. Pas pada hari Jumat ia dinas mbecak ada seseorang suruh mengantar agak begitu jauh, tapi dia tidak mengeluh, desahan nafasnya terdengar oleh yang naik becak itu, selawatan melulu, dzikir melulu. Begitu sampai dan berhenti, orang itu menghadiai segepok uang sebagai bayarannya, terutama terima kasihnya atas desahan nafas yang indah itu.
Tentu dia tolak karena pas hari Jumat, ia tak pernah ingkar janji. Dengan takdzim dia bilang, punten mas, untuk hari ini aku tidak bisa menerima uang panjenengan, untuk menepati janjiku. Terhenyak ini orang sambil tanya--kenapa mbah, engkau telah demikian payah mengantarku, ada apa sebenarnya? Tukang becak tua itu sambil tersenyum ompongnya bilang, mas kalau pas Jumat begini aku bebaskan orang yang naik becakku, lakon ini sebagai jeritan rinduku kepada Kanjeng Nabi yang telah memperkenalkan hatiku dengan Allah, menunjukkan Akhirat, mengkadoi aku Qur an, menjanjikanku syafaat, walau bagiku tidak mungkin untuk bisa ziarah ke makamnya, tapi aku yakin Kanjeng Nabi menjawab setiap keronto-ronto umatnya, dia tidak akan mengecewakan aku.
Runtuhlah hati orang yang naik becak itu, air matanya muncrat, mulut terkunci, dalam ranah hati yang tersentuh cinta, kata-kata menjadi hilang seketika. Dengan terbata-bata orang yang naik becak itu bilang, kalau begitu mbah berbahagialah engkau sama istrimu, mungkin lewat aku, akan aku hajikan engkau berdua.
Empat mata saling bertatapan, airmata sama2 keluar, kata2 hilang, ruang rindu menjelang. Tukang becak itu bersimpuh terimakasih yang tak terhingga, Kanjeng Nabi mendengar dan menjawab....
Kawan2, bernyanyilah, Yaa imaamarrusli yaa sanadi anta bakdulloohi muktamadi fabidunyaya waakhiroti yaa Rosulallahi khudbiyadi (Wahai Imam para Rasul, wahai sandaran hatiku, engkaulah setelah Allah gondelanku, dunia akhiratku wahai Rasulullah, ambillah tanganku)….
Pada saatnya brangkat ziarah haji, orang yang membeayayi itu mengantar sampai bandara, melihat mereka berdua terbang menemui yang dirindukan, lalu ia sama istri dan anaknya balik, didera oleh percikan rindu yang dimiliki tukang mbecak itu….

Anak Cinta

Sedulurku tercinta, ada anak bertanya pada bapaknya, bapak--tanyanya, kenapa orang-orang itu menyembah-nyembah api, aku kok melihat ada yang menciptakan api nampak lebih terang di hatiku? Aku tidak tahu nak--jawab ayahnya, itu sudah tradisi, memikirkan kebutuhan harian saja sedemikian sulit, aku tidak sampai berfikir seperti itu, kalau memang itu dahaga hatimu, jangan kau hina mereka, karena jiwa itu bagai seruling yang lengkingannya kalau ditiup itu hanya membahasakan rindu untuk kembali ke rumpun bambu yang telah lama pisah itu, kalau kau ingin tahu jawabannya, carilah di daerah timur tengah sana, tepatnya di daerah Palestina, cuma syaratnya kau harus berani berpisah dengan bapak-ibu dan saudara-saudaramu.
Dialog ini terjadi di tanah Rusia, tepatnya di Azerbagain. Hati yang telah terbakar oleh cinta dengan hasrat mencari, menjadikan anak umur belasan tahun ini, mengembara melalui belantara padang sahara pasir, yang ganas alam dan perjalanannya. Dan kedua orang tuanya memberikan kecintaan tulus dan percaya, bagai busur panah, dan anak itu anak panahnya, dilepas dengan keyakinan penuh tepat bidikannya.
Sebelum anak ini sampai tujuan yang ditunjuk orang tuanya, mengalami ditangkap perampok dan dijual menjadi budak berulang-ulang, sampai bebas dan sampailah di tanah Palestina itu dengan selamat, sudah agak dewasa umurnya. Ketika menjumpai seorang pendeta Yahudi dengan kitab Tauratnya, dia memperoleh peningkatan pencarian, lagi2 ia ingat pesan ayahnya, tidak boleh menghina apa dan siapa.
Dalam kitab Taurat ini dia menanyakan akan adanya utusan Tuhan sebagai pamungkas, yang akan hidup di daerah yang ada pohon kurmannya. Pendeta Yahudi itupun menunjukkan nama utusan itu, dan bertanyalah kepada Pendeta Nasrani.
Ketika ia menemui pendeta Nasrani, hal yang diterangkan Pendeta Yahudi benar adanya, dan di kitab injil ini diterangkan, namanya Ahmad, beserta ciri-cirinya. Bahkan pendeta Nasrani mengabarkan bahwa dia akan hijrah di daerah yang ada pohon kurmanya itu. Langsung sang pengembara ini menuju tempat yang dimaksud dalam kitab, tempat hijrahnya Kanjeng Nabi itu,dan dalam menunggu atas kehadiran Kanjeng Nabi, ia bekerja sebagai pemanen kurma.
Pas pada hari Kanjeng Nabi Hijrah itu, ia berada di pohon kurma, terdengar sayup suara yang dibawa oleh angin, mengabarkan kepada dia atas kehadiran Rasulullah. Thaalaal badru alainaa min tsaniatil wadaak wajabasysyukru alaina madaalillahidaak….
Seketika dia lumpuh diatas pohon kurma (methotholen--bhs jawanya), lalu turun tanpa memanjat, sampai di bawah berjalan dengan tangannya menggapai-ngapai pasir mendekat pada kafilah Kanjeng Nabi. Riuh rendah manusia gembira, dengan melongokkan kepalanya di antara kaki-kaki orang itu, tepat saat memandang dengan pandangan yang telah diketahuinya atas kenabian itu, pingsanlah dia.
Baru, setelah usai gempita kegembiraan itu ia siuman dan dihadapkan pada Kanjeng Nabi, pembawa agama cinta ini, ia masuk Islam. Menjadi sahabat Nabi setia, dan paling dianugarahi umur panjang, walau melewati perang-demi perang...
Siapa dia kawan2, inilah yang bernama Salman Al-Farisi itu...

Laron-Laron Cinta

Sedulurku tercinta, ketika hujan turun, badai mengamuk dan suara halilintar mengelegar-menggelegar pada malam hari, aku dirumah pas tidak ada acara keluar. Aku melihat anai-anai (laron) dalam jumlah yang banyak, listrik mati, hanya cahaya lampu lilin yang menjadikan aku terang melihat anai-anai itu.
Tap, tap, tap, tap, suara tubuhnya membentur kaca jendera kamarku, aku lihat mereka ingin berebut masuk mendekati cahaya kecil itu. Antara cahaya lilin dengan hasrat laron-laron itu memercikkan hikmah yang tiada tara. Dalam sunyi itu, sepertinya cahaya lilin menyapa siapa gerangan yang ada dibalik jendela itu. Suara tap tap tap tap itu aku bayangkan jawaban laron, aku aku aku aku aku aku dengan begitu gemuruh, seperti tidak sabar mendekat andai tidak ada selubung halus kaca jendela kamarku.
O, engkau laron--kata cahaya, mau hajat apa malam-malam begini begitu banyak datang mengetuk-ngetuk diriku. Wahai cahaya, izinkan kami menikmati kehangatan cahayamu, dalam gelap telah aku lintasi jalan begini mengerikan, dengan sayap-sayap kami yang rapuh menantang badai, kuyup oleh derasnya hujan dan gemetaran sepanjang jalan oleh sambaran guntur, apalagi kafilah kami tadi siang berhadapan dengan sambaran burung-burung mau menyantap kami.
Kenapa derita yang menumpuk tidak menyurutkan hasratmu untuk mencariku--tanya cahaya lilin. Wahai cahaya, dalam terangnya cahaya matahari, mata kami menjadi silau tak bisa melihat, pun dalam kegelapan malam, walau ada kebebasan, justru mebikin kami saling bertabrakan dan berbenturan, kami tidak tahan wahai cahaya, yang kami rindukan kebebasan ternyata malah membelenggu, yang kami pelothoti cinta ternyata semua semu, semu, semu, kami datang ini hanya ingin dekapan kehangatan cahayamu,walau sedikit,bolehlah sebagai penawar dahaga hasrat kami semua.
Aku tahu--jawab cahaya, namun kamu semua harus melihat sahabat-sahabatmu yang telah melewati selubung halus kaca itu di dekatku ini, lihatlah sayapnya ada yang patah, lalu merangkak-rangkak mendekatiku, ada yang lunglai dibawah panas cahayaku, ada yang gagal mendekatiku setelah melewati prahara seperti dirimu, ditangkap cicak-cicak itu, dan ada yang mati, lihatlah.
Wahai cahaya, atas hasrat cinta cahayamu ini, kami semua telah melewati, cinta wahai cahaya telah memaniskan segala yang pahit, telah mendekatkan segala yang jaun, meringankan segala yang berat, mensucikan segala yang najis dan menyejukkan segala yang panas, dan menghidupkan segala yang mati, derita telah melahirkan keterjagaan kami sepanjang jalan menujumu, andai kami mati dibawah panasnya cahayamu, bukankah itu tanda cahayamu bermahkota diatas kepala kami, kami rela, kami rela, kami rela.
Setelah anai-anai itu menyatakan pasrahnya, dan telah mengaburkan pikiran-pikirannya, sepertinya mempersilahkan mereka untuk mendekat dengan berbagai celah-celah lubang kamarku. Dan aku lihat dengan nasib yang sama dialami sahabat yang telah sampai. Bagi yang sayapnya masih utuh, mereka terbang dengan menyambar-nyambar panasnya cahaya itu, sepertinya menari-nari kegembiraan atas terjawabnya hasrat kerinduan.
Ternyata aku lihat, dibalik kaca jendela mereka berpacu dengan waktu, ingin menyusul juga, sahabat-sahabatnya yang telah sampai....
Saat siangnya kawan2, aku lihat di emperan kamarku banyak yang menjadi martir dalam perjalanan, sebuah resiko yang lezat, bagi pelakunya....
Subhanallooh, walhamdulillaah, walaa ilaaha illallohu Allaahu akbar….

Rokok Cinta

Sedulurku tercinta, kalau orang memahami adab lahiriyah dan batiniyah, tentu melihat berbagai persoalan hidup yang muncul ke permukaan ini sebagai tajalli cahaya terpuji itu, tentu ia akan memiliki pemahaman yang sangat bijak, dimana pada ujung-ujungnya ia tidak akan berani menghakimi pihak lain, sebab dalam ranah muamalah sejauh apapun perbedaan ini, ada manfaatnya, sehingga adab yang terakhir dibayar adalah lakum dinukum waliyadin, terakhir, walana amaluna lakum amalukum, selesai dan damai.
Kalau toh sampai ada geger2 hukum itulah kalau ingin tahu bahwa bukan saja dalam ranah pemerintahan itu ada firaun, tetapi juga ada firaun-firaun dalam agama, yang ciri utamanya adalah mengedepankan hukum2 lahiriyah, bukan untuk menghakimi dirinya yang masih banyak dosanya itu, tetapi menghakimi pihak lain yang tidak diketahui secara detail, sebab-sebabnya kenapa ia melakukan sesuatu.
Misalnya orang yang akan aku kisahkan ini, adalah orang yang terbuang di tengah kota Semarang, aku sebut terbuang karena menempati gubug di tengah sawah berdua, mengisi hari-hari tuanya, karena anak-anaknya sudah mandiri, berdua berteman sepi dengan menanam kangkung (sayuran) di sawah yang bukan miliknya. Kalau aku gambarkan rumahnya seperti tempat gubuk2 kecil di pinggir stasiun Gambir dan Jatinegara Jakarta itu.
Ia seorang perokok kelas berat, kabar-kabar donyo (dunia) tak pernah ia dengar dan tahu. Merokoknya pakai linthingan, tempatnya lopak-lopak (kotak seperti lambaran stempel), mau beli rokok pabrik, ia tak mampu. Yang menjadi filosofis adalah, merokok itu menurutnya jangan dipandang dari sisi luarnya, namun lihatlah kandungan didalamnya.
Aneh, merokok disamping menurutnya bisa, menurutnya lho, bisa menyembuhkan penyakit tertentu namun juga bermakna isaplah yang baik, sebulkan (buang) yang buruk, tambah lagi saat dia merokok, tidak seperti yang aku sering bilang sebagai sarana dzikir (yaa Huu), namun dalam abstraksinya merokok, dia pakai harian sebagai sarana bersholawat, kayak tukang kerok itu.
Sambil merawat lahan kangkung di sekitar gubuknya yang selalu hijau itu, lalu setiap dini hari mereka bawa ke pasar dijual. Begitu begitu saja setiap harinya, kecuali kalau ada pengajian dan undangan2 saudaranya, mereka datangi. Bersholawat cara dia seperti itu kan aneh, tapi ajaib. Dalam rindunya yang sunyi di dada, karena tidak pakai gaya-gaya seremonial pada umumnya, dijawab juga oleh Rosullah.
Kerja yang keras merawat sayur kangkung, ia tabung, hanya ingin rasanya sebelum mati, mereka di kasih kesempatan bisa ziarah ke makan Nabi, kekasih Allah itu. Seluruh orang kampung menjadi geger, si tukang sayur kangkung itu, naik haji berdua. Berangkat begitu saja, tidak mampu menyelenggarakan upacara apa2, saat mereka pamit dengan bersilaturrahmi ke rumah masing-masing orang sekitar sawah kangkungnya, mohon doa restu...
Kawan2, marilah kita latih diri kita untuk menahan tidak membiasakan menghakimi pihak lain, kenapa mereka melakukan hal tersebut, termasuk hal2 sepele soal rokok, atau soal lainnya yang kita tidak tahu kedalamannya, yang bisa dijadikan alasan hukum itu. Aku lebih takut, sebagaimana Kanjeng Nabi di akhirat nanti malu, kalau orang yang mengaku nasabnya dan mengaku umatnya, tetapi tidak membawa amal baiknya, dan tidak kangen bertemu dengannya setelah menerima banyak kehormatan yang disandarkan kepada kekasih Allah itu.
Banyak orang yang moyoki orang merokok dengan bangga dan dengan dalil2 pendukungnya, didadanya kosong oleh rindu bertemu dengan Kanjeng Nabi, ternyata diganjar ditolak seumur-umur tidak sampai ke pusara suci itu, sampai mereka mati....
Tidak seperti tukang sayur yang merokok itu...hehe

Golden Cinta

Sedulurku tercinta, kalau aku sebut golden, itu maksudnya kepingan uang jaman Belanda, yang waktu aku masih kecil dipakai untuk ngeroki ibuku kalau pas aku masuk angin. Golden ini bernilai emas, ditangan seorang ibu tua di daerah Tegal karena manakala orang kampung masuk angin, dengan golden itu, di tangan ibu tua penyakit masuk anginnya atas izin Allah, jadi sembuh.
Ibu tua tukang kerok masuk angin ini, manakala sedang dinas ngeroki pasian baik yang datang ke gubuknya atau ia mendatangi pasen yang memanggil, gerakan tangannya yang lincah penuh hasrat doa itu, sambil ngeroki orang hatinya sambil sholawatan.
Ketika ditanya orang-orang kenapa melakukan amalan ini, maka dia jawab dengan tangkas bagai orator ulung, bahwa Kanjeng Nabi saw itu pendatang yang di nanti dengan debaran hati, kedatangannya dinanti dan kedatangannya memberi. Tiada yang lepas di kehidupan yang ada, kecuali disucikan secara menyeluruh, tanpa batas. Tiada jeritan yang luput dari cintanya, walau domba atau onta dan semesta ikut merasakannya. Beliau itu pemimpin yang unggul, seluruh umat menjadi tanggung jawabnya, namun sedemikian sederhana hidupnya di tengah umat. Beliau itu tidak sekedar memberi contoh, namun ikut serta dalam penderitaan merintis jalan kehidupan yang bagai taman.
Si tukang kerok itu didera rasa malu, karena hanya demikian cara dia membalas cinta yang agung itu. Hanya dengan golden itu yang menjadi sarana hatinya lari sekencang-kencangnya untuk meraih kafilah Kanjeng Nabi itu, sambil menolong sesama, termasuk yang minta kerok itu multi etnis, multi agama dan ormas, ia ekspresikan dalam keseharian, tanpa dikenal oleh media apapun, ia tidak ingin dikenal kecuali, pelayanan atas percikan cinta Nabi itu.
Sekampungnya, ada nenek tua ibunya orang2 berada di Jakarta mudik lebaran, anak-anaknya menawarkan akan membangun rumah tua itu, nenek tua itu bilang, jangan nak aku tinggal berapa lama lagi lihat kamu2 dan tinggal di dunia ini yang aku lihat di tv sedemikian gaduh. Anaknya lalu menawarkan membelikan mobil mewah, nenek itu menolak, jangan nak, pergi2 sudah kita nikmati bersama sampai ujung dunia saka kamu, sekarang aku punya rumah sangat indah di hati ini, yakni aku merasakan kehadiran Tuhan di sini, biarlah aku nikmati kesendirian ini, sunyi nak tapi kudus (suci).
Dan ketika anaknya menawarkan untuk menaikkan haji ke baitullah dengan beaya haji plus, ibunya meneteskan airmata, sambil menganggukkan kepala, tanda persetujuan. Tapi nak, nenek itu melanjutkan, apakah kamu semua tidak keberatan. Tidak mak, kami semua malah gembira kenapa baru kali ini ibu bilang. Kamu tahu kan, ibu ini sering masuk anginen, engkau semua jauh dariku, berada di luar kota semua, kalau pas aku sakit langgananku tidak ada lain kecuali tukang kerok dengan uang golden itu di kampaung ini.
Pas dia ngeroki aku, aku jadi larut dalam getaran rindu dia sama kanjeng Nabi, dia itu berselawat melulu, kayaknya seperti aku menggendongmu dulu sambil berdendang, dan tukang kerok itu aku rasakan keronto-ronto atine, andai ada rejeki tentu ingin ziarah ke pusara Kanjeng Nabi, tapi siapa nak yang peduli. Aku sembuh tidak sekedar kerokan golden itu, tapi shalawatnya itu lho, mewakili kerinduanku kepada Kanjeng Nabi itu, ketika aku memethik derita Kanjeng Nabi seperti yang sering diceritakan tukang kerok itu, sembuhlah penyakitku,aku juga antarkan ziarah kesana. Tapi nak, tolong, tolong, maafkan mamakmu, ikhlaskan hatimu, aku mau berangkat ke baitullah asal tukang kerok itu kau beayai, bersamaku…
Kawan2, mereka berdua pada akhirnya berangkat atas beaya anak2nya, haji plus, terbang ke baitullah dengan berbekal kerinduan. Di hati tukang kerok pakai uang golden itu tak terbayangkan gembiranya, sekeping golden mengantarkan kepada orang yang selalu dia panggil-panggil itu, ia berfikir dan merenung andai golden tanpa sholawat apa jadinya.....
Labbaik allahumma labbaik, labbaika laa syarikalaka labbaik innal hamda wannikmata laka walmulk laa syarikalak… labbaik…